Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

UPDATE Kasus Tewasnya Balita Jung In yang Curi Perhatian Jimin BTS, Ibu Angkat Tak Merasa Bersalah

Update kasus tewasnya Jung In yang mencuri perhatian Jimin BTS, Jang selaku ibu angkat mengaku tak bersalah.

UPDATE Kasus Tewasnya Balita Jung In yang Curi Perhatian Jimin BTS, Ibu Angkat Tak Merasa Bersalah
via Koreaboo
Update kasus tewasnya Jung In yang mencuri perhatian Jimin BTS, Jang selaku ibu angkat mengaku tak bersalah. 

Mengutip Koreaboo, 12 Oktober 2020, sehari sebelum kematian Jung In, bocah malang ini dititipkan ke tempat penitipan anak.

Kala itu, Jung In terlihat manja dan meminta sang guru untuk terus memeluknya.

Guru pun menjadi khawatir dengan kondisi Jung In dan mulai mengamati tubuhnya untuk mencari tahu, apakah ada luka baru.

Rekaman CCT menunjukkan guru mengamati perut Jung In yang terlihat tidak normal.

Rekaman CCTV yang menunjukkan guru mengamati perut Jung In.
Rekaman CCTV yang menunjukkan guru mengamati perut Jung In. (via Koreaboo)

Guru itu kemudian memberi tahu ayah angkat Jung In, Ahn, mengenai masalah tersebut.

Baca juga: Pandemi Corona Belum Usai, Korea Selatan Diserang Wabah Flu Burung

Baca juga: Korea Selatan dan Iran Sepakat Upayakan Solusi Diplomatik Terkait Penyitaan Kapal Tanker

Namun, diduga Ahn membantahnya.

Meski begitu, selama di penitipan anak, Jung In tidak menangis atau mengungkapkan rasa sakit.

Rekaman berbeda memperlihatkan Jung In menolak makan dan minum, ia memilih duduk sendirian tak berbaur dengan teman-temannya.

Jung In memilih duduk sendiri saat berada di penitipan anak.
Jung In memilih duduk sendiri saat berada di penitipan anak. (via Koreaboo)

Para guru di penitipan anak adalah pihak pertama yang mengumpulkan bukti foto dan melaporkan adanya kekerasan terhadap Jung In oleh Jang dan Ahn.

Pada Maret 2020, Jung In mendatangi penitipan anak dengan memar cukup besar di sisi wajahnya.

Foto yang menunjukkan memar di pipi Jung In ini diambil pada Maret 2020.
Foto yang menunjukkan memar di pipi Jung In ini diambil pada Maret 2020. (via Koreaboo)
Foto yang menunjukkan memar di pipi Jung In lainnya, diambil pada 2 April 2020.
Foto yang menunjukkan memar di pipi Jung In lainnya, diambil pada 2 April 2020. (via Koreaboo)

Minggu berikutnya, ada memar baru di sisi lain wajah Jung In.

Di bulan Mei 2020, para guru mengajukan laporan pertama - setelah mereka menemukan memar yang tak biasa di paha Jung In.

Sayangnya, laporan pertama itu menyimpulkan Jang dan Ahn tidak bersalah.

Foto yang diambil guru sebagai bukti untuk melapor kepada polisi. Ditemukan memar-memar tak wajar pada paha Jung In.
Foto yang diambil guru sebagai bukti untuk melapor kepada polisi. Ditemukan memar-memar tak wajar pada paha Jung In. (via Koreaboo)

"Polisi secara khusus mengatakan itu (bukti-bukti) tidak bisa menjadi penyiksaan anak, kecuali ada patah tulang atau luka terbuka," ungkap guru Jung In.

"Kami bertanya pada ibunya, bagaimana Jung In mendapatkan memar di pahanya. Ibu Jung In mengatakan ayahnya memijatnya."

"Tapi, siapa yang memijat bayi sekeras itu, sampai-sampai mereka memar?" imbuhnya.

Jung In kemudian tidak hadir di penitipan anak selama beberap waktu setelah guru mengajukan laporan pertama kepada polisi.

Selama waktu itu, tepatnya Juni 2020, laporan kedua telah diajukan kepada polisi oleh tetangga Jang dan Ahn.

Tetangga menemukan Jung In tidur sendirian di dalam kendaraan yang terkunci.

Parahnya, tidak ada orang dewasa di sekitar situ untuk mengawasi Jung In.

Polisi, bagaimanapun, menyelesaikan penyelidikan untuk kepentingan Jang dan Ahn.

Beberapa bulan kemudian, saat Jung In kembali ke penitipan anak pada September 2020, para guru semakin khawatir.

Jung In saat Mei 2020 (kiri) dan ketika masuk ke penitipan anak pada September 2020 (kanan), setelah beberapa lama tak datang.
Jung In saat Mei 2020 (kiri) dan ketika masuk ke penitipan anak pada September 2020 (kanan), setelah beberapa lama tak datang. (via Koreaboo)

Jung In terlihat lebih kurus, setidaknya ia diperkirakan kehilangan berat badan sebanyak hampir satu kilogram.

Guru segera membawa Jung In ke rumah sakit, dimana dokter yang melihat kondisi bocah malang itu, mengajukan laporan ke polisi.

Laporan itu merupakan laporan yang ketiga mengenai dugaan kekerasan anak.

Guru yang mengantar Jung In ingat bagaimana dokter bersikeras agar Jung In dipisahkan dari orang tua karena apa yang dialaminya pasti kekerasan.

Setelah kasus Jung In ramai diberitakan media, Kantor Polisi Yangchoen dan petugas yang bertanggung jawab atas tiga laporan mengenai balita 16 bulan itu, dikritik keras.

Publik menyebut apa yang dilakukan kepolisian Yangcheon adalah "kegagalan mutlak mereka melindungi Jung In".

Badan Kepolisian Metropolitan Seoul segera merilis pernyataan yang mengklaim bahwa 11 petugas yang terlibat dalam menangani laporan Jung In, telah menerima hukuman atas tindakan tidak bertanggung jawab mereka.

Namun, ketika kata hukuman diturunkan menjadi peringatan, publik Korea marah.

Di Korea, tingkat hukuman yang dijatuhkan pada pejabat publik - seperti petugas polisi - dapat berupa diskualifikasi permanen, pencopotan jabatan, penurunan pangkat, skorsing, pemotongan hgaji, dan kecaman.

Dilansir Korea Herald, orang tua angkat Jung In, Jang dan Ahn, akan menghadapi persidangan pada 13 Januari 2021 mendatang.

Penuntut telah mendakwa Jang dalam penahanan praperadilan atas tuduhan pelecehan terhadap anak.

Diketahui, sekitar 230 ribu orang telah menandatangani petisi nasional di situs kepresidenan pada Senin (4/1/2021).

Mereka menyerukan untuk mengungkap informasi pribadi orang tua angkat dan menuntut keduanya atas pembunuhan.

Kasu Jung In Curi Perhatian Jimin BTS

Pada Minggu (3/1/2021), Jimin mengunggah tulisan #AkuMintaMaafJungIn di Weverse.

Jimin BTS mengunggah tagar #JungInAkuMintaMaaf di Weverse, Minggu (3/1/2021).
Jimin BTS mengunggah tagar #JungInAkuMintaMaaf di Weverse, Minggu (3/1/2021). (Tangkap Layar Weverse BTS)

Tagar tersebut merupakan kampanye yang diserukan untuk menyadarkan masyarakat mengenai kekerasan anak secara umum.

Tak hanya itu, kampanye itu dimulai karena rasa bersalah publik yang tak mampu melindungi Jung In dan anak-anak lainnya yang menjadi korban kekerasan.

Aksi Jimin BTS itu kemudian diikuti penggemar K-Pop, dimana tagar #SorryJungIn menjadi trending Twitter pada Senin malam.

Kasus kekerasan yang dialami Jung In mendapat perhatian besar dari para ARMY karena tanggal meninggal bocah malang ini bertepatan dengan hari ulang tahun Jimin BTS.

Terlebih, Jimin BTS dikenal sebagai sosok penyayang anak-anak.

Banyak yang menduga Jimin BTS sangat berduka karena insiden menyedihkan ini terjadi di hari ulang tahunnya.

(Tribunnews.com/Pravitri Retno W)

Ikuti kami di
Penulis: Pravitri Retno Widyastuti
Editor: Daryono
Sumber: TribunSolo.com
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas