Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Selama 6 Bulan Ditemukan 58 Kasus Berkendara Ugal-ugalan di Jalan Raya Jepang

Beberapa kecelakaan akibat aori unten seperti terjadi pada Ferrari beberapa waktu lampau.

Selama 6 Bulan Ditemukan 58 Kasus Berkendara Ugal-ugalan di Jalan Raya Jepang
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Poster antisipasi aori unten di Jepang dikampanyekan kepolisian Jepang, sebagai tindak kriminal dan SIM dicabut. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Badan Kepolisian Nasional Jepang menyelidiki 58 kasus aori unten (ugal-ugalan di jalan raya) dan menangkap pelaku dalam enam bulan terakhir ini setelah pemberlakuan UU Lalu Lintas Jalan yang direvisi, yang baru menetapkan kejahatan mengemudi dan mengganggu.

"Dari 58 kasus tersebut, 54 kasus atau 93,1 persen diselidiki melalui video perekam berkendara (video recorder yang dipasang di mobil)," papar sumber Tribunnews.com, Kamis (25/2/2021).

Beberapa kecelakaan akibat aori unten seperti terjadi pada Ferrari beberapa waktu lampau.

"Saya merasa ada lebih banyak kejadian aori unten di jalan dalam kenyataan. Jadi yang diungkap kepolisian sangat sedikit itu," papar Kazunori Shidoji, seorang profesor di sekolah pascasarjana Universitas Kyushu (psikologi lalu lintas), yang akrab dengan kebijakan lalu lintas.

Mengenai fakta bahwa 90 persen memiliki video dashcam, Shidoji menunjukkan bahwa "tampaknya cukup berguna, tetapi mungkin sulit untuk membuat kasus tanpa video."

Baca juga: Pertama Kali Ditangkap Pengendara Aori Unten Sepeda Jepang

Baca juga: Aori Unten Mulai Berlaku di Jepang, Pelanggar Terancam 5 Tahun Penjara atau Denda 1 Juta Yen

Untuk menerapkan kejahatan mengemudi obstruktif, otoritas investigasi perlu membuktikan bahwa tujuannya adalah untuk menghalangi lalu lintas kendaraan lain.

Sebelum berlakunya revisi undang-undang tersebut, polisi menjelaskan bahwa perkara tersebut akan diajukan berdasarkan berbagai alat bukti seperti gambar kamera keamanan, bekas ban di tempat kejadian, kerusakan mobil, cerita saksi, dan lainnya.

Namun, meski tiba-tiba ada yang memotong di depan mobil, ada banyak poin yang harus dibenahi dalam penyidikan yang sebenarnya, seperti tidak kena hukuman karena menghalangi mengemudi hanya untuk terburu-buru.

Dalam kasus di mana kedua belah pihak tidak setuju, kenyataannya adalah sulit untuk terhubung ke kasing kecuali gerakan spesifik mobil diketahui dari video.

Bersepeda zig-zag (aori unten) pertama di tangkap di Jepang pelanggaran UU Aori Unten yang diberlakukan sejak Juni 2020.
Bersepeda zig-zag (aori unten) pertama di tangkap di Jepang pelanggaran UU Aori Unten yang diberlakukan sejak Juni 2020. (Kepolisian Jepang)

"Video dari kamera dashboard adalah kunci utama yang dapat membuktikan niat pengemudi," kata Naonori Yamaguchi, seorang profesor di Universitas Internasional Osaka (Psikologi Lalu Lintas).

"Saya pikir jumlah deteksi akan meningkat. Saya juga memperhatikan efek lain dari penyebaran kamera dashboard, dan berharap kesadaran untuk mengamati peraturan lalu lintas akan menyebar. Kamera dashboard tidak hanya mencerminkan lingkungan, tetapi juga mencerminkan cara mengemudi mereka sendiri dan membuat mereka merasa disiplin," ujarnya.

Sementara itu telah terbit buku baru "Rahasia Ninja di Jepang" berisi kehidupan nyata ninja di Jepang yang penuh misteri, mistik, ilmu beladiri luar biasa dan tak disangka adanya penguasaan ilmu hitam juga. informasi lebih lanjut ke: info@ninjaindonesia.com

Ikuti kami di
Editor: Dewi Agustina
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas