Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Israel Serang Jalur Gaza

Kisah Remaja Palestina Kehilangan Ayah dan Ibu Saat Israel Serang Jalur Gaza

Gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza memang telah dicapai sejak Jumat lalu dan saat ini kesepakatan tersebut sedang diamati dunia.

Kisah Remaja Palestina Kehilangan Ayah dan Ibu Saat Israel Serang Jalur Gaza
EMMANUEL DUNAND / AFP
Gambar ini diambil dari Sderot di Israel selatan di perbatasan dengan Jalur Gaza, menunjukkan roket yang ditembakkan dari sistem pertahanan rudal Iron Dome Israel, pada 13 Mei 2021. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, GAZA - Gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza memang telah dicapai sejak Jumat lalu dan saat ini kesepakatan tersebut sedang diamati dunia.

Ketenangan ini berhasil dicapai setelah Mesir yang bertindak sebagai mediator berhasil menengahi gencatan senjata antara negara zionis dan organisasi militan yang mengontrol daerah kantong tersebut.

Hamas pun berhenti menembakkan roket ke Israel, begitu pula Israel yang mengakhiri aksi pembomannya terhadap target strategis di Jalur Gaza, di mana setidaknya 240 orang telah kehilangan nyawa dalam sebelas hari pertempuran.

Jika gencatan senjata berlanjut dan kedua belah pihak akhirnya mencapai kesepakatan, ketenangan pun akan dirasakan warga yang bermukim di daerah tersebut dan kehidupan akan kembali normal.

Namun bagi Ahmed al-Koulak, seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun dari Gaza, Palestina, hidupnya tidak akan pernah kembali terlihat normal seperti dahulu.

Baca juga: Menlu Palestina: Yerusalem Adalah Inti Konflik dengan Israel

Karena pada 16 Mei lalu, pesawat tempur Israel telah menyerang gedung yang menjadi tempat tinggalnya.

Serangan itu 'mengubur' orangtua dan empat saudara kandungnya 'hidup-hidup'.

"Kami berada di rumah saat mendengar ledakan besar itu. Saya ingat saat ibu saya bergegas pergi ke kamar saya untuk melindungi saya dan saudara-saudara saya. Namun ada tembok yang ambruk dan mengubur ibu saya serta kami semua. Lalu saya pingsan dan ketika membuka mata, saya mendengar orang-orang berteriak 'dia masih hidup', tapi bukannya bahagia, saya justru takut dan menangis sepanjang waktu," kata al-Koulak.

Baca juga: Israel dan Hamas Saling Klaim Kemenangan Saat Gencatan Senjata

Dikutip dari laman Sputnik News, Minggu (23/5/2021), Israel telah berulang kali mengklaim bahwa serangan udara yang mereka lakukan secara eksklusif menargetkan situs militer Hamas.

Halaman
123
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas