Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Penanganan Covid

Pemerataan Distribusi Vaksin ke Negara Berkembang Jadi Kunci Pergerakan Ekonomi Dunia

Di saat yang sama, vaksin menjadi kunci penting untuk menggerakkan kembali roda perekonomian.

Pemerataan Distribusi Vaksin ke Negara Berkembang Jadi Kunci Pergerakan Ekonomi Dunia
Twitter @DavidMalpassWBG
Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia 2011-2014, kini ditunjuk menjadi Direktur di World Bank. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Eko Sutriyanto 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Negara maju perlu berperan aktif dalam memastikan distribusi vaksin terjadi secara merata di seluruh penjuru dunia, khususnya di negara-negara berkembang, agar roda perekonomian dunia bisa kembali berjalan normal dan bertumbuh dengan baik.

Mari Elka Pangestu, Managing Director of Development Policy and Partnerships Bank Dunia, yang menjadi pembicara dalam seminar bertajuk Distribusi Vaksin Global: Memastikan Keadilan Bagi Negara Berkembang, menyebutkan hampir 60 persen pertumbuhan ekonomi dunia disumbangkan oleh negara-negara berkembang. 

Di saat yang sama, vaksin menjadi kunci penting untuk menggerakkan kembali roda perekonomian.

Tanpa vaksin, kegiatan masyarakat akan sangat terbatas dan berisiko tinggi.

“Jadi, jika perekonomian negara berkembang tidak segera pulih atau malah mengalami kemunduran, maka perekonomian dunia juga tidak akan pulih.  Berbicara tentang kerja sama global, negara maju memiliki kewajiban memastikan adanya akses yang adil terhadap vaksin,” ujar Mari.

Baca juga: Ketua Satgas Covid-19: Jangan Ragu Melakukan Vaksinasi dan Tetap Disiplin Prokes

Oleh karena itu, transparansi terkait produksi, distribusi, dan ketersediaan vaksin menjadi sangat penting demi terwujudnya akses merata terhadap vaksin di seluruh penjuru dunia.

“Saat ini transparansi sangat kurang, baik dari pihak swasta maupun pembeli. Transparansi terkait berapa banyak (vaksin) yang dibeli, dipesan, dan diproduksi. Hal ini penting untuk mengetahui berapa banyak lagi vaksin yang dibutuhkan,” paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, Profesor Tikki Pangestu dari Yong Loo Lin School of Medicine, National University of Singapore, yang juga hadir sebagai pembicara dalam seminar tersebut menyampaikan bahwa di samping bantuan vaksin dari negara maju, negara-negara berkembang juga perlu memacu produksi vaksin lokal.

Kendati demikian, dia menyadari bahwa hal ini tidak mudah karena produksi vaksin membutuhkan teknologi yang kompleks didukung dengan fasilitas produksi dan dukungan teknis yang mumpuni.
“Di samping jaminan kualitas ada pula sejumlah aturan dan kebijakan yang harus dipenuhi (dalam upaya produksi vaksin),” ujarnya.

Tikki melanjutkan, di Indonesia sendiri, yang merupakan salah satu negara berkembang, persentase masyarakat yang sudah mendapatkan vaksin masih sangat rendah. 

Dia mencatat baru lima hingga tujuh persen masyarakat yang sudah mendapatkan vaksin dosis pertama. 

Sementara untuk vaksin dosis kedua, jumlahnya bahkan lebih rendah lagi, yakni hanya empat persen.

Seperti diketahui, serangan pandemi COVID-19 telah membawa dampak besar bagi dunia dan negara-negara di dalamnya, khususnya bagi negara-negara berkembang dan negara-negara miskin. 

Berbagai negara mengalami perlambatan pertumbuhan, penurunan ekonomi karena pembatasan, penghentian total sejumlah aktivitas, tingkat kemiskinan yang semakin tinggi, hingga penurunan drastis kemampuan kognitif pada anak-anak.

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas