Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Krisis Myanmar

Cerita Warga Myanmar Angkat Senjata Lawan Junta: Sebelum Kudeta Saya Bahkan Tak Bisa Bunuh Binatang

Sejumlah warga sipil di Myanmar mulai angkat senjata untuk melawan pemerintah militer atau junta.

Cerita Warga Myanmar Angkat Senjata Lawan Junta: Sebelum Kudeta Saya Bahkan Tak Bisa Bunuh Binatang
AFP/STR
Demonstran antikudeta militer Myanmar 

Di mana etnis minoritas telah berperang selama beberapa dekade melawan militer Myanmar atau Tatmadaw, untuk penentuan nasib dan hak mereka.

Lainnya, seperti Andrew, telah bergabung dengan salah satu dari beberapa lusin pasukan pertahanan sipil yang bermunculan di kota-kota besar dan kecil sejak akhir Maret 2021.

Sementara kelompok etnis bersenjata telah bertahun-tahun mengembangkan sumber daya dan kapasitas, pasukan pertahanan sipil sebagian besar dipersenjatai dengan senapan berburu tunggal dan senjata rakitan lainnya.

Aktivis antikudeta sedang berlatih dengan kelompok etnis bersenjata di perbatasan Myanmar
Aktivis antikudeta sedang berlatih dengan kelompok etnis bersenjata di perbatasan Myanmar (Stringer/AFP)

Banyak di antara pejuang itu yang mendapat pelatihan tempur hanya selama beberapa minggu.

Namun mereka tetap maju menghadapi militer yang telah mengumpulkan lebih dari 3 miliar dolar senjata dan memiliki pengalaman 70 tahun menindak penduduk sipil.

"Kami telah melakukan protes nasional dan meluncurkan gerakan pembangkangan sipil terhadap militer dengan harapan memulihkan demokrasi sipil, tetapi metode itu saja tidak berhasil," kata Neino, mantan dosen universitas yang sekarang memimpin cabang politik perlawanan sipil di Negara Bagian Chin dan wilayah tetangga Sagaing.

"Kami telah melakukan semua yang kami bisa, dan mengangkat senjata adalah satu-satunya cara yang tersisa untuk memenangkan ini," tambahnya.

Salai Vakok, seorang pekerja pembangunan masyarakat berusia 23 tahun yang berubah menjadi pejuang perlawanan, juga di Negara Bagian Chin, mulai mengumpulkan senapan berburu di kota asalnya Mindat tak lama setelah Tatmadaw mulai menembaki pengunjuk rasa pada pertengahan Februari 2021.

Salai Vakok mengaku, pihaknya sempat berharap orang-orang dariluar negeri akan berjuang dengan mereka.

"Dulu kami berharap orang-orang dari luar negeri akan berjuang untuk kami, tetapi itu tidak pernah terjadi."

Halaman
1234
Penulis: Rica Agustina
Editor: Tiara Shelavie
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas