Tribun

Krisis Myanmar

Aung San Suu Kyi Sebut Sebagian Keterangan Saksi di Pengadilan Tidak Benar

Pemimpin Myanmar yang digulingkan militer, Aung San Suu Kyi mengatakan bahwa ada beberapa kesaksian di persidangannya yang salah.

Penulis: Rica Agustina
Editor: Arif Fajar Nasucha
zoom-in Aung San Suu Kyi Sebut Sebagian Keterangan Saksi di Pengadilan Tidak Benar
STR / AFP
Aung San Suu Kyi - Pemimpin Myanmar yang digulingkan militer, Aung San Suu Kyi mengatakan bahwa ada beberapa kesaksian di persidangannya yang salah. 

TRIBUNNEWS.COM - Pemimpin Myanmar yang digulingkan, Aung San Suu Kyi mengatakan, beberapa kesaksian dalam persidangan kliennya, tidak benar.

Hal itu disampaikan salah satu pengacara Aung San Suu Kyi, Min Min Soe, setelah sesi pengadilan Senin di Ibu Kota Naypyidaw.

Dikatakan Min Min Soe, Aung San Suu Kyi mendengarkan dengan penuh minat selama proses persidangan.

Setelah mendengarkan keterangan saksi, Aung San Suu Kyi memberitahu pengacaranya bahwa ada beberapa kesaksian yang salah.

Aung San Suu Kyi juga meminta kesaksian yang dianggapnya salah itu untuk diperiksa silang.

Baca juga: Rusia Abstain dalam Seruan PBB soal Embargo Senjata ke Myanmar, Kini Malah Undang Pemimpin Junta

"Aung San Suu Kyi mendengarkan dengan penuh minat selama seluruh proses persidangan dan memberi tahu kami kesaksian mana yang salah, mana yang harus diperiksa silang," kata Min Min Soe, dikutip dari Channel News Asia.

Pengacaranya yang lain, Kyi Win, mengatakan kesaksian pada Senin (22/6/2021) oleh polisi dan seorang pejabat lokal melibatkan tuduhan melanggar peraturan pengendalian pandemi, impor dan penggunaan walkie-talkie yang tidak terdaftar.

Kyi Win mengatakan kapten tentara yang bersaksi tentang mengimpor radio memberikan sedikit rincian ketika dia menanyainya.

"Yang bisa dia katakan adalah bahwa peralatan telekomunikasi telah diserahkan kepadanya. Dan dia tidak tahu sisanya," kata Kyi Win.

Diketahui, persidangan pada Senin (22/6/2021) merupakan sidang minggu kedua kasus yang menjerat Aung San Suu Kyi.

Adapun Aung San Suu Kyi didakwa mengimpor walkie-talkie secara ilegal untuk digunakan pengawalnya, penggunaan radio tanpa izin, menyebarkan informasi yang dapat menyebabkan alarm atau kerusuhan publik, dan melanggar pembatasan pandemi Covid-19 selama kampanye pemilihan 2020.

Namun, kritik terhadap pemerintah militer yang berkuasa mengatakan kasus itu dimaksudkan untuk mendiskreditkan dia dan melegitimasi perebutan kekuasaan.

Tuduhan dalam persidangan relatif kecil, tetapi jika dia dinyatakan bersalah, dia dapat mencegahnya mengikuti pemilihan baru yang dijanjikan oleh militer dalam waktu dua tahun setelah pengambilalihan.

Bahkan jika Aung San Suu Kyi dibebaskan, ada dua tuduhan yang lebih serius terhadapnya yang belum diadili.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas