Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
TribunNews | PON XX Papua
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Virus Corona

Profesor Jepang Prihatin Dengan Jumlah Infeksi yang Tersebar Sangat Banyak di Indonesia

Profesor Koji Wada dari Universitas Kesehatan dan Kesejahteraan Internasional, Penasehat Kementerian Kesehatan Jepang merasa prihatin dengan jumlah

Profesor Jepang Prihatin Dengan Jumlah Infeksi yang Tersebar Sangat Banyak di Indonesia
Foto Richard Susilo
Profesor Koji Wada dari Universitas Kesehatan dan Kesejahteraan Internasional, Penasehat Kementerian Kesehatan Jepang 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO -  Profesor Koji Wada dari Universitas Kesehatan dan Kesejahteraan Internasional, Penasehat Kementerian Kesehatan Jepang merasa prihatin dengan jumlah infeksi yang tersebar sangat banyak di Indonesia saat ini.

"Saya sangat prihatin dengan jumlah infeksi yang sangat banyak di Indonesia. Perlu bantuan dari banyak negara dan tampaknya Jepang juga sudah banyak membantu mengirimkan vaksin dan alat oksigen saat ini," papar Profesor Wada kepada Tribunnews.com sore ini (5/8/2021).

Selain itu Profesor Wada juga sangat mengharapkan banyak negara di dunia berbuat adil kepada negara berkembang di Asia dan Afrika.

"Sementara Jepang berkecukupan vaksin, negara-negara Asia Afrika tampaknya masih berkekurangan vaksin sehingga kita mestinya lebih adil lagi dalam bertindak kepada mereka sehingga semua negara bisa sama rata mendapatkan vaksin dengan baik, tidak lagi berkekurangan," tambahnya.

Profesor Wada juga melihat memang perlunya vaksin booster untuk semakin memperkuat daya tahan tubuh kita perlindungan terhadap virus corona dengan berbagai variannya.

"Namun sekarang yang penting semua negara beserta rakyatnya perlu segera di vaksinasi, jangan sampai berkekurangan. Setelah itu kita pikirkan tahun depan untuk vaksin booster," tambahnya lagi.

Selain itu dengan survei yang dilakukannya bulan Juli 2021 terhadap 3129 penduduk Tokyo dengan usia antara 20-69 tahun, tampak memang kalangan muda masih jarang yang divaksinasi.

"Terutama Wanita usia antara 20-39 tahun malahan masih terus menunggu, belum mau divaksinasi dulu. Antara usia 20-29 tahun sebanyak 58,7% belum mau divaksinasi dulu. Antara usia 30-39 tahun sebanyak 57,7% belum mau divaksinasi dulu."

Sedangkan untuk kalangan Pria hanya yang berusia antara 20-29 tahun yang memiliki persentase tinggi, 50,1% belum mau divaksinasi, masih menunggu dan lihat kanan kiri dulu.

Oleh karena itu Profesor Wada melihat adanya tiga pekerjaan rumah bagi Jepang agar meningkatkan percepatan vaksinasi di dalam negeri saat ini.

Pertama meningkatkan kelas usia menengah  sebagai kunci strategi bagi kontrol infeksi dan vaksinasi.

Strategi kedua adalah intervensi yang lebih ketat lagi diperlukan secepatnya untuk mengontrol jumlah yang terinfeksi.

Kemudian hal ketiga adanya harapan bagi politis dan bahkan kepemimpinan sipil guna mengontrol situasi saat ini lebih tegas lagi agar infeksi dapat terkendali dengan baik.

Sementara itu Beasiswa (ke Jepang) dan upaya belajar bahasa Jepang yang lebih efektif dengan melalui zoom terus dilakukan bagi warga Indonesia secara aktif dengan target belajar ke sekolah di Jepang nantinya. Info lengkap silakan email: info@sekolah.biz dengan subject: Belajar bahasa Jepang.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas