Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
TribunNews | PON XX Papua
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Konflik di Afghanistan

Menhan Inggris: Ancaman Serangan di Afghanistan Akan Berkembang Dengan Ditariknya Pasukan Barat

Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace mengatakan menghadapi masalah seperti yang terjadi di Afghanistan memerlukan waktu yang tidak singkat.

Menhan Inggris: Ancaman Serangan di Afghanistan Akan Berkembang Dengan Ditariknya Pasukan Barat
AFP/WAKIL KOHSAR
Seorang pejuang Taliban berjaga di lokasi bom bunuh diri kembar yang menewaskan ratusan orang termasuk 13 tentara AS, di bandara Kabul, Jumat (27/8/2021). AFP/WAKIL KOHSAR 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, LONDON - Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace mengatakan menghadapi masalah seperti yang terjadi di Afghanistan memerlukan waktu yang tidak singkat dan perlu strategi khusus dalam penanganannya.

"Saat menghadapi masalah seperti Afghanistan, anda harus mengelolanya dan berada di sana untuk jangka panjang. Tidak hanya 'terbang dan memperbaiki masalah' seperti yang tampaknya dipikirkan negara Barat," kata Wallace, Jumat (27/8/ 2021).

Wallace menyampaikan ancaman serangan lebih lanjut akan berkembang di Kabul, ibu kota Afghanistan, saat tenggat waktu bagi pasukan Barat semakin dekat untuk meninggalkan negara itu.

Dikutip dari laman Sputnik News, Jumat (27/8/2021), wilayah bandara di kota Kabul yang telah dipadati kerumunan orang yang berusaha melarikan diri dari negara tersebut, kini dihantam beberapa ledakan yang terjadi pada Kamis kemarin.

Ledakan yang dilaporkan terjadi di luar Baron Hotel dan Abbey Gate dekat bandara itu pun menewaskan sedikitnya 103 orang, termasuk 13 tentara Amerika Serikat (AS).

Baca juga: Taliban Susun Pemerintahan Sementara di Afghanistan, Mencakup Pemimpin Semua Etnis dan Suku

ISIS-K, afiliasi yang memproklamirkan diri sebagai bagian dari kelompok teroris ISIS yang beroperasi di Asia Selatan dan Tengah, telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Menurut Wallace, ledakan itu bukan merupakan cara untuk mempercepat kepergian Inggris dari negara itu.

"Narasinya akan selalu seperti ini, saat kami pergi, kelompok-kelompok tertentu seperti ISIS ingin menunjukkan klaim bahwa mereka telah mengusir AS atau Inggris," jelas Wallace.

Ia menambahkan bahwa penutupan pusat pemrosesan evakuasi di Baron Hotel pun telah sesuai dengan jadwal yang ditentukan.

Baca juga: Fadli Zon: Taliban Bisa Jadi Harapan Baru bagi Stabilitas Politik di Afghanistan

Perlu diketahui, Baron Hotel menjadi tempat bagi warga Afghanistan yang ingin melarikan diri dari negara itu dan tempat berkumpulnya pasukan Barat, yang letaknya di dekat bandara Kabul.

Inggris pun berencana untuk menyelesaikan proses evakuasi warganya dan warga lokal yang selama ini membantu misi AS dan sekutu di Afghanistan 'dalam hitungan jam'.

"Kami akan memproses orang-orang yang kami bawa, kira-kira ada 1.000 orang di dalam lapangan terbang saat ini. Dan kami akan mencari cara untuk terus menemukan beberapa orang di kerumunan semaksimal mungkin, namun secara keseluruhan pemrosesan utama saat ini telah ditutup dan kami hanya memiliki waktu beberapa jam," kata Wallace.

Baca juga: Cerita Korban Ledakan Bandara di Kabul Afghanistan: Seperti Melihat Kiamat, Korban Tewas Terlantar

Perlu diketahui, saat AS dan sekutu NATO melanjutkan evakuasi warga negara mereka dan warga lokal yang selama ini membantu misi mereka di Afghanistan setelah pengambilalihan kekuasaan negara itu oleh Taliban, Kabul pun dihantam serangkaian ledakan pada hari Kamis kemarin.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas