Tribun

Penanganan Covid

Joe Biden Janjikan Tambahan Sumbangan 500 Juta Vaksin Covid-19 untuk Negara Miskin

Presiden AS Joe Biden dalam KTT Covid-19 menjanjikan tambahan sumbangan 500 juta vaksin Covid-19 untuk negara miskin

Editor: hasanah samhudi
Joe Biden Janjikan Tambahan Sumbangan 500 Juta Vaksin Covid-19 untuk Negara Miskin
AFP
Presiden AS Joe Biden berpidato tentang berakhirnya perang di Afghanistan di Gedung Putih pada Selasa (31/8/2021). Pesawat militer Amerika terakhir lepas landas dari Bandara Hamid Karzai beberapa menit sebelum tengah malam di Kabul, menandai berakhirnya kehadiran militer AS di Afghanistan sejak invasi menyusul serangan 11 September 2001. 

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON - Presiden AS Joe Biden menjanjikan sumbangan tambahan 500juta vaksin Covid-19 untuk negara-negara yang berjuang mengatasi Pandemi Covid-19.

Biden mengungkapkan hal itu saat berpidato secara virtual dari Gedung Putih pada pertemuan puncak para pemimpin dunia Covid-19 (KTT Covid-19)  pada Rabu (22/9/2021).

“Ini adalah krisis yang butuh bantuan semua pihak,” kata Biden.

Janji dari Biden di KTT Covid-19 itu menjadikan total komitmen AS dari sumbangan vaksin menjadi 1,1 miliar, lebih banyak dari gabungan seluruh dunia.

"Kami telah mengirimkan 160 juta dosis ini ke 100 negara," kata Biden.

Baca juga: WHO Tunda Proses Persetujuan Vaksin Sputnik V, Karena Masalah Manufaktur

Baca juga: Update Penanganan Covid-19: Indonesia Berhasil Meningkatkan Testing Rate di Atas Standar WHO

"Untuk setiap satu suntikan yang kami berikan hingga saat ini di Amerika, kami sekarang berkomitmen untuk melakukan tiga suntikan ke seluruh dunia,” tambah Biden, seperti dilansir dari Channel News Asia.

Disebutkan, setengah miliar vaksin tersebut akan berasal dari Pfizer dan akan disalurkan ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Gedung Putih menyebutkan, Biden juga menantang para pemimpin dunia untuk memvaksinasi 70 persen dari setiap negara pada September 2022.

"Kami membutuhkan negara-negara berpenghasilan tinggi lainnya untuk mewujudkan ambisi mereka sendiri," katanya dalam sambutan pembukaannya.

"Kami tidak akan menyelesaikan krisis ini dengan setengah-setengah,” ujarnya.

Baca juga: WHO Memonitor Varian Baru COVID-19, Mu, yang Sempat Terdeteksi di 39 Negara

Baca juga: WHO Desak Para Pemimpin Dunia Tunda Vaksin Booster Hingga Akhir September

Biden menekankan bahwa peningkatan vaksin hanya boleh disumbangkan tanpa ikatan politik.

Amerika Serikat dan negara-negara kaya lainnya telah dikritik oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena rencana mereka untuk melakukan suntikan penguat (booster) bagi warga lanjut usia dan berisiko tinggi, sementara sebagian besar dunia menghadapi kekurangan dosis yang parah.

Pada hari Selasa (21/9/2021), dalam pidato pertamanya di PBB sebagai presiden, Biden mengatakan kepada para delegasi bahwa Washington telah mengggunakan lebih dari 15 miliar dolar AS untuk mengatasi Covid-19 secara global.

Meskipun pengembangan vaksin yang aman dan sangat efektif terjadi dalam waktu yang cepat, namun ada jurang besar antara negara-negara yang memiliki banyak vaksin dengan negara-negara yang baru memulai vaksinasi.

Hanya 3,6 persen dari populasi Afrika yang memenuhi syarat telah divaksinasi,  dibandingkan dengan rata-rata lebih dari 60 persen orang sudah divaksinasi di Eropa Barat.

Baca juga: Balas Amerika Serikat, China Desak WHO Selidiki Laboratorium AS Sebagai Asal-Usul Covid-19

Baca juga: WHO Kecam Negara-negara Kaya yang Izinkan Booster sementara Negara Lain Belum Dapat Dosis Pertama

KTT Covid-19 diadakan di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Biden dan Duta Besar AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield menjadi tuan rumah.

KTT dihadiri Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Direktur Jenderal  Organisasi Kesehatan Dunia Tedros Adhanom Ghebreyesus, Ketua Gavi, aliansi vaksin yang bekerja untuk mendistribusikan vaksin ke negara-negara miskin.

Pejabat pemerintahan Biden mengatakan Washington akan berusaha untuk menggalang dunia di sekitar tiga tujuan.

Tiga tujuan itu adalah meningkatkan pasokan vaksin; menyelamatkan nyawa dengan menyelesaikan krisis oksigen dan akses ke pengujian, obat-obatan dan alat pelindung; dan meningkatkan kesiapan masa depan.

Pejabat itu mengatakan, Biden menetapkan target ambisius, yang akan mengharuskan semua negara, termasuk negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah, dapat mencapai vaksinasi 70 persen sebelum Sidang Majelis Umum PBB tahun depan. (Tribunnews.com/CNA/Hasanah Samhudi)

Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas