Tribun

Krisis Myanmar

ASEAN Pertimbangkan Tidak Undang Pimpinan Junta Militer Myanmar di KTT, Ini Alasannya

Asosiasi negara di Asia Tenggara, ASEAN, sedang berdiskusi untuk tidak mengundang pimpinan junta militer Myanmar di pertemuan puncak bulan ini.

Penulis: Ika Nur Cahyani
Editor: Daryono
zoom-in ASEAN Pertimbangkan Tidak Undang Pimpinan Junta Militer Myanmar di KTT, Ini Alasannya
Ye Aung THU / AFP
Dalam file foto yang diambil pada 19 Juli 2018 ini, Kepala Jenderal Senior Myanmar Min Aung Hlaing, panglima tertinggi angkatan bersenjata Myanmar, datang untuk memberikan penghormatan kepada pahlawan kemerdekaan Myanmar Jenderal Aung San dan delapan orang lainnya yang dibunuh pada tahun 1947, selama sebuah upacara untuk memperingati 71 tahun Hari Martir di Yangon. Militer Myanmar merebut kekuasaan dalam kudeta tak berdarah pada 1 Februari 2021, menahan pemimpin yang terpilih secara demokratis Aung San Suu Kyi saat memberlakukan keadaan darurat satu tahun. 

TRIBUNNEWS.COM - Asosiasi negara di Asia Tenggara, ASEAN, sedang berdiskusi untuk tidak mengundang pimpinan junta militer Myanmar, Jenderal Senior Min Aung Hlaing di pertemuan puncak bulan ini.

Dilansir Reuters, junta militer dinilai gagal membuat kemajuan yang telah disepakati sebelumnya untuk memulihkan perdamaian di Myanmar. 

Hal ini diungkap seorang utusan regional pada Rabu (6/10/2021).

Utusan untuk Myanmar, Erywan Yusof mengatakan lambannya kemajuan militer untuk menepati rencana lima poin yang disepakati pada April lalu di KTT ASEAN "sama saja dengan kemunduran".

Menteri Luar Negeri kedua Brunei Darusalam ini mengatakan junta tidak secara langsung memberi tanggapan terkait permintaan untuk bertemu dengan Aung San Suu Kyi.

Baca juga: Utusan Khusus ASEAN Terkendala Respon Junta Militer, Sulit Bertemu Semua Pihak di Myanmar

Baca juga: KBRI Yangon Serahkan Bantuan untuk Myanmar pada MRCS

Panglima Militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing tiba di   Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Provinsi Banten, Sabtu (24/4/2021) sekira pukul 11.00 WIB. Jenderal Min Aung Hlaing disambut oleh Duta Besar Myanmar untuk Republik Indonesia Ei Ei Khin Aye dan Kepala Protokol Negara (KPN) Andy Rachmianto.
Jenderal Min Aung Hlaing hadir di Jakarta untuk menghadiri  ASEAN Leaders’ Meeting yang digelar pada Sabtu, 24 April 2021, di Jakarta.
Panglima Militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Provinsi Banten, Sabtu (24/4/2021) sekira pukul 11.00 WIB. Jenderal Min Aung Hlaing disambut oleh Duta Besar Myanmar untuk Republik Indonesia Ei Ei Khin Aye dan Kepala Protokol Negara (KPN) Andy Rachmianto. Jenderal Min Aung Hlaing hadir di Jakarta untuk menghadiri ASEAN Leaders’ Meeting yang digelar pada Sabtu, 24 April 2021, di Jakarta. (Capture Youtube Sekretariat Presiden)

Menurut Al Jazeera, bulan lalu Yusof mengatakan dia mencari akses untuk menghubungi Aung San Suu Kyi dan pejabat lain yang ditahan militer selama perebutan kekuasaan.

Suu Kyi merupakan mantan pemimpin Myanmar yang dilengserkan militer pada 1 Februari lalu.

Setelah terjadi kudeta, situasi Myanmar penuh kekacauan karena masyarakat marah dengan kembalinya kekuasaan militer.

Lebih dari 1.100 orang meninggal dunia sejak saat itu dan ribuan warga ditangkap, menurut PBB.

Kebanyakan menjadi korban tindakan keras pasukan keamanan saat protes pro-demokrasi.

Peta jalan ASEAN mencakup komitmen untuk berdialog dengan semua pihak, memungkinkan akses kemanusiaan, dan menghentikan permusuhan.

Sejarah panjang kediktatoran militer Myanmar dan dugaan pelanggaran HAM menjadi masalah paling rumit di ASEAN, menguji batas kesatuannya dan kebijakan non-intervensinya.

Namun pertemuan para menteri luar negeri pada Senin lalu menyuarakan kekecewaan tentang kurangnya kemajuan yang dibuat oleh Dewan Administrasi Negara (SAC) atau junta militer.

Polisi anti huru hara memblokir jalan ketika pengunjuk rasa berkumpul untuk demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon pada 6 Februari 2021.
Polisi anti huru hara memblokir jalan ketika pengunjuk rasa berkumpul untuk demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon pada 6 Februari 2021. (YE AUNG THU / AFP)

Diplomat Malaysia, Saifuddin Abdullah dalam cuitannya mengatakan bahwa tanpa kemajuan, "akan sulit untuk mendatangkan Ketua SAC di KTT ASEAN".

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas