Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

The Daily Express Minta Maaf Publikasikan Klaim Palsu 'Rusia Curi Formula Vaksin AstraZeneca'

The Daily Express meralat artikel itu 11 Oktober lalu dan menyebut artikel yang sebelumnya telah diterbitkan berisi informasi salah.

The Daily Express Minta Maaf Publikasikan Klaim Palsu 'Rusia Curi Formula Vaksin AstraZeneca'
RT.com
Screenshot pernyataan koreksi The Daily Express atas isi artikelnya yang mengklaim 'Rusia menyalin formula vaksin AstraZeneca dan menggunakannya untuk membuat vaksinnya sendiri'.  

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, LONDON - The Daily Express, salah satu tabloid Inggris telah mengeluarkan koreksi untuk artikel yang mengklaim 'Rusia menyalin formula vaksin AstraZeneca dan menggunakannya untuk membuat vaksinnya sendiri'. 

Media tersebut melakukan ralat terkait artikel itu 11 Oktober lalu dan menyebut artikel yang sebelumnya telah diterbitkan berisi informasi keliru.

The Daily Express menekankan bahwa informasi tentang kelompok yang menciptakan vaksin Sputnik V Rusia, yakni Pusat Penelitian Nasional Gamaleya untuk Epidemiologi dan Mikrobiologi pun telah disampaikan kepada publik.

Dikutip dari Sputnik News, Rabu (13/10/2021), tabloid Inggris ini meminta maaf atas publikasi klaim 'pencurian palsu'.

The Daily Express juga berusaha 'memperbaiki' dengan menerbitkan tanggapan resmi dari Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF), yang mendanai pengembangan vaksin tersebut.

Baca juga: Rusia Uji Coba Vaksin Covid-19 Sputnik V dalam Bentuk Semprotan Hidung

Pengembangan vaksin Sputnik V didasarkan pada platform adenoviral manusia yang telah dipelajari dengan baik, kemanjuran dan keamanannya pun telah terbukti selama beberapa dekade.

Baca juga: Disebut Curi Formula AstraZeneca, Rusia Kecam Tabloid Inggris Sangat Tidak Ilmiah

Pengembang Sputnik V, Gamaleya Center menggunakan platform adenoviral manusia yang sama untuk penelitian inovatif mereka sebelumnya yang telah dilakukan selama bertahun-tahun.

Baca juga: Koktail Antibodi AstraZeneca Diklaim Kurangi Risiko Kematian Akibat Covid-19

Termasuk vaksin Ebola pada 2017 dan MERS pada 2019, kemudian mengembangkan vaksin Rusia dalam melawan COVID-19 secara cepat.

Sebaliknya, AstraZeneca menggunakan vektor adenoviral simpanse untuk vaksinnya, bukan vektor manusia yang digunakan oleh Sputnik V.

Klaim bahwa mata-mata Rusia mencuri formula vaksin AstraZeneca untuk membuat Sputnik V awalnya diterbitkan oleh tabloid Inggris lainnya, The Sun.

Gedung Kremlin membantah klaim tersebut  dan menyebut sebagai 'informasi tidak ilmiah'. Sementara RDIF menyampaikan rincian alasn terkait 'mengapa pernyataan tersebut dianggap salah'.

Hingga saat ini The Sun belum menarik kembali artikel yang berisi klaim palsunya.

Sebaliknya, media tersebut kembali menerbitkan artikel yang diduga berisi 'informasi palsu lainnya' yang mengklaim Rusia tidak hanya menyalin formula vaksin, namun juga secara rutin terlibat dalam pencurian rahasia komersial dari Inggris.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas