Tribun

Virus Corona

Setelah Muncul di India dan Inggris, Varian Baru Delta Plus AY.4.2 Juga Ditemukan di Rusia

Khafizov menjelaskan bahwa kemungkinan penyebaran subtipe varian baru ini telah meluas di Rusia dan berbagai belahan dunia lainnya.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Hasanudin Aco
Setelah Muncul di India dan Inggris, Varian Baru Delta Plus AY.4.2 Juga Ditemukan di Rusia
Freepik
Ilustrasi virus corona 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, RUSIA - Setelah ditemukan di India dan Inggris, subtipe varian baru Delta Virus Corona (Covid-19) yang disebut AY.4.2 juga telah ditemukan di Rusia.

Hal tersebut disampaikan Kepala Kelompok Ilmiah untuk Pengembangan Metode Baru dalam Mendiagnosis Penyakit Manusia di Rospotrebnadzor's Central Research Institute of Epidemiology, Kamil Khafizov.

Perlu diketahui, Rospotrebnadzor merupakan Badan Pengawas Hak Konsumen Rusia.

"Ya, varian AY.4.2 dari strain Delta sudah terdeteksi pada kasus terisolasi di Rusia, sebagai hasil sekuensing genom virus corona SARS-CoV-2 yang disimpan di database VGARus. Pada beberapa kelompok, gen baru varian ini disebut 'Delta plus', namun nama yang sama sebelumnya merujuk pada varian yang berbeda, oleh karena itu sekarang muncul beberapa kebingungan," kata Khafizov.

Baca juga: Mengenal Varian Delta Plus AY.4 dan Subtipe Baru Delta AY.4.2

Dikutip dari laman Sputnik News, Kamis (21/10/2021), Khafizov menjelaskan bahwa kemungkinan penyebaran subtipe varian baru ini telah meluas di Rusia dan berbagai belahan dunia lainnya.

"Frekuensi subtipe ini mengalami peningkatan namun para ahli tidak percaya bahwa itu bertanggung jawab atas berlanjutnya sejumlah besar kasus harian di berbagai negara," jelas Khafizov.

Sebelumnya, para ilmuwan di Inggris telah mengumumkan terkait penyebaran varian Covid-19 yang lebih menular dibandingkan strain Delta B.1.617.2.

Menurut para ahli dari Sanger Institute di Cambridge dan Institut Genetika di University College London, varian AY.4.2 ini berpotensi 10 hingga 15 persen lebih menular.

Jika data ini dikonfirmasi maka varian tersebut kemungkinan akan menjadi yang paling menular sejak awal penyebaran virus corona pada awal 2020 lalu.

"Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) telah mengidentifikasi mutasi AY.4.2 dari varian Delta, namun tidak dalam kelompok manapun, dengan Delta yang terus menjadi varian dominan di AS," kata Direktur CDC Rochelle Walensky pada Rabu kemarin.

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas