Tribun

Virus Corona

Studi: China Hadapi Wabah Kolosal Jika Tiru AS dan Inggris yang Mencabut Pembatasan Covid-19

Ahli matematika China memperkirakan negara itu menghadapi wabah kolosal jika mencabut pembatasan Covid-19 seperti yang dilakukan AS, Inggris, Prancis

Editor: hasanah samhudi
Studi: China Hadapi Wabah Kolosal Jika Tiru AS dan Inggris yang Mencabut Pembatasan Covid-19
AFP/KENZO TRIBOUILLARD
Orang-orang mengambil bagian dalam demonstrasi menentang langkah-langkah Covid-19, termasuk kartu kesehatan negara itu, di Brussels pada 21 November 2021. (Photo by Kenzo Tribouillard / AFP) 

TRIBUNNEWS.COM, BEIJING -  China bisa mengalami 630 ribu kasus Covid-19 dalam sehari jika mencabut kebijakan toleransi dengan mencabut pembatasan perjalanan.

Ini diungkapkan dalam laporan studi ahli matematika Universitas Peking yang diterbitkan di China CDC Weekly oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) China.

Dilansir dari Channel News Asia, laporan pada ahli matematika itu mengatakan bahwa China tidak mampu mencabut pembatasan perjalanan tanpa vaksinasi yang lebih efisien atau perawatan khusus.

Para ahli menggunakan data dari bulan Agustus dari Amerika Serikat, Inggris, Spanyol, Prancis, dan Israel.

Para matematikawan menilai kemungkinan-kemungkinan potensial jika China mengadopsi taktik pengendalian pandemi yang sama seperti yang dilakukan negara-negara itu.

Baca juga: Kasus Covid-19 Terus Melonjak, Eropa Perluas Suntikan Booster Vaksin dan Perketat Pembatasan

Baca juga: India Segera Evaluasi Rencana Pelonggaran Pembatasan Covid-19, Antisipasi Varian Omicron

Laporan itu menyebutkan bahwa kasus baru harian China akan mencapai setidaknya 637.155 jika mengadopsi strategi pandemi Amerika Serikat.

Selain itu, laporan itu juga menyebutkan, kasus harian akan mencapai 275.793 jika China mengambil pendekatan yang sama seperti Inggris dan 454.198 jika meniru Prancis.

"Perkiraan tersebut mengungkapkan kemungkinan nyata dari wabah kolosal yang hampir pasti akan menyebabkan beban yang tidak terjangkau pada sistem medis," kata laporan itu.

"Temuan kami telah menimbulkan peringatan yang jelas bahwa, untuk saat ini, kami tidak siap untuk merangkul strategi 'terbuka' yang hanya bertumpu pada hipotesis kekebalan kelompok yang disebabkan oleh vaksinasi yang dianjurkan oleh negara-negara Barat tertentu,” sebut ahli matematika dalam laporan itu.

Mereka memperingatkan bahwa perkiraannya didasarkan pada perhitungan aritmatika dasar.

Baca juga: PM Belanda Bersumpah Adili Perusuh Pembatasan Covid-19: Kekerasan Berkedok Protes

Baca juga: Protes Pembatasan Covid-19 Musim Dingin, Kerusuhan Melanda Eropa, dari Belanda hingga Austria

Mereka juga mengatakan, model yang lebih canggih diperlukan untuk mempelajari evolusi pandemi jika pembatasan perjalanan dicabut.

China telah mempertahankan kebijakan toleransi nol terhadap Covid-19, dengan mengatakan pentingnya menahan kasus lokal ketika ditemukan lebih banyak gangguan akibat upaya untuk melacak, mengisolasi, dan mengobati yang terinfeksi.

China melaporkan 23 kasus virus corona baru yang dikonfirmasi pada Kamis (25/11/2021), turun dari 25 sehari sebelumnya, otoritas kesehatannya mengatakan pada Minggu (28/11/2021).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Jumat menetapkan varian Covid-19 baru yang terdeteksi di Afrika Selatan dengan sejumlah besar mutasi sebagai "perhatian", mendorong beberapa negara untuk memberlakukan pembatasan perjalanan. (Tribunnews.com/CNA/Hasanah Samhudi)

Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas