Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Pertemuan Menlu Rusia-Ukraina di Turki Tak Berhasil, Perang Belum Usai

Pembicaraan antara Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergey Lavrov dan  Menlu Ukraina Dmytro Kuleba di Antalya tidak menemui kemajuan soal upaya damai

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Milani Resti Dilanggi
Editor: Miftah
zoom-in Pertemuan Menlu Rusia-Ukraina di Turki Tak Berhasil, Perang Belum Usai
Reuters via Aljazeera
Menlu Rusia, Sergei Lavrov (kiri) dan Menlu Ukraina, Dmytro Kuleba (kanan) yang direncanakan bertemu pada Kamis (10/3/2022) di selatan Turki dalam sebuah forum diplomatik. 

Kuleba mengatakan dia ingin muncul dari pertemuan ini lantaran kesepakatan tentang koridor kemanusiaan dari kota Mariupol yang terkepung. 

Akan tetapi pihak Rusia tidak mau berkomitmen untuk menghentikan operasinya.

"Sayangnya Menteri Lavrov tidak dalam posisi untuk berkomitmen." ucap Kuleba.

Dalam hal ini Lavrov membantah dengan mengklaim bahwa rumah sakit itu berfungsi sebagai pangkalan militer bagi kaum nasionalis dari Batalyon Azov yang radikal.

"Tiga hari lalu di pertemuan Dewan Keamanan PBB, delegasi kami mempresentasikan fakta bahwa rumah sakit bersalin ini telah lama disembunyikan oleh batalion Azov dan kelompok radikal lainnya," katanya.

Baca juga: Menlu Rusia Sebut Pemimpin Barat Menggaungkan Isu Perang Nuklir

Rusia Kembali Tegaskan Tidak Lakukan Invasi ke Ukraina

Lebih lanjut Lavrov juga memberi tanggapan terkait isu serangan untuk negara-negara lain. 

Rekomendasi Untuk Anda

Lavrov menegaskan pihaknya tidak berencana utuk menyerang negara lain.

"Kami tidak berencana untuk menyerang negara lain dan kami tegaskan kami tidak menyerang Ukraina." ucap Lavrov.

Dia bersikeras bahwa Presiden Vladimir Putin meluncurkan operasi pada 24 Februari karena situasi di Ukraina yang menimbulkan ancaman langsung bagi Federasi Rusia.

Moskow telah mengatakan bahwa semua tuntutannya, termasuk Kyiv untuk bersikap netral dan membatalkan aspirasi untuk bergabung dengan NATO harus dipenuhi untuk mengakhiri serangannya.

Moskow menyebut serangannya sebagai invasi untuk melucuti senjata Ukraina dan mengusir para pemimpin yang disebutnya neo-Nazi.

Kyiv dan sekutunya menganggap itu sebagai dalih tak berdasar untuk perang. 

Lavrov juga mengatakan dia tidak percaya konflik ini akan berubah menjadi perang nuklir.

Tetapi dia memperingatkan Amerika Serikat dan Eropa bahwa Moskow tidak pernah lagi ingin bergantung pada Barat.

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas