Tribun

Konflik Rusia Vs Ukraina

Curhat Komandan Batalyon Azov di Azovstal yang Terkepung Pasukan Rusia

Resimen paramiliter Azov didirikan pada 2014 dengan tujuan mempertahankan kota Mariupol dari serangan Rusia dan pejuang Donbass.

Penulis: Setya Krisna Sumarga
Curhat Komandan Batalyon Azov di Azovstal yang Terkepung Pasukan Rusia
Handout / Mariupol City Council / AFP
Video handout yang diambil dari rekaman yang dirilis oleh Dewan Kota Mariupol pada 19 April 2022 menunjukkan awan asap mengepul di atas pabrik baja Azovstal dan gerbang galangan kapal Azov yang hancur, saat Rusia melanjutkan upayanya untuk merebut kota pelabuhan Mariupol yang terkepung. 

TRIBUNNEWS.COM, MARIUPOL – Media Israel, Haaretz, secara eksklusif mewawancarai Svyatoslav Palamar, Wakil Komandan Batalyon Azov yang terkepung di pabrik baja Azovstal, Mariupol.  

Palamar curhat tentang nasib anak buahnya yang berlindung di ruang bawah tanah, dalam kondisi amat sangat terbatas.

Mereka tidak punya jalur keluar, kecuali dievakuasi oleh PBB atau negara ketiga sesuai permintaan orang-orang Azov dan Ukraina.

Resimen paramiliter Azov didirikan pada 2014 dengan tujuan mempertahankan kota Mariupol dari serangan Rusia dan pejuang Donbass.

Mereka kemudian diintegrasikan ke Garda Nasional Ukraina. Kelompok sipil berhaluan nasionalis kanan itu resmi jadi elemen pertahanan negara.

Berikut alihbahasa wawancara jurnalis Haaretz, Sam Sokol dan Liza Rozovsky , yang dipublikasikan di laman media itu, Kamis (12/5/2022).

Svyatoslav Palamar, dari resimen Azov, mengatakan kondisi di tempat persembunyian di Pabrik Baja, Mariupol. (Tangkap Layar BBC)
Svyatoslav Palamar, dari resimen Azov, mengatakan kondisi di tempat persembunyian di Pabrik Baja, Mariupol. (Tangkap Layar BBC) ((Tangkap Layar BBC))

Pasukan Donbass mengatakan sejak warga sipil telah dievakuasi dari Mariupol, mereka tidak akan memiliki belas kasihan pada mereka yang tetap di sana. Apa yang Anda harapkan?

Kami berharap politisi kami, dengan dukungan negara lain, akan menemukan solusi, yaitu evakuasi pasukan kami. Ada banyak orang di sini yang tidak bisa kita berikan bantuan medis yang layak.

Daerah tempat kami menahan orang-orang yang terluka berada di bawah pengeboman besar-besaran dan hanya ada sedikit obat-obatan, sedikit peralatan untuk melakukan operasi dan situasi orang-orang yang terluka sangat parah.

Kami meminta Palang Merah, Perserikatan Bangsa-Bangsa, politisi kuat dunia untuk memungkinkan menyelamatkan orang-orang kami. Kondisi yang paling penting untuk ini adalah gencatan senjata untuk mengumpulkan yang terluka.

Halaman
1234
Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas