Tribun

Tragedi Pesta Halloween di Korsel

Desak Presiden Korsel Mundur, Politik Kini Merambah ke Momen Berkabung untuk Korban Tragedi Itaewon

Beberapa peserta justru memegang simbol yang menyerukan agar Presiden Yoon Suk-yeol mundur dari jabatannya.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Erik S
zoom-in Desak Presiden Korsel Mundur, Politik Kini Merambah ke Momen Berkabung untuk Korban Tragedi Itaewon
AFP/ANTHONY WALLACE
Barang-barang pakaian dan aksesori lainnya yang diambil oleh polisi dari tempat kejadian lonjakan massa Halloween yang fatal yang menewaskan lebih dari 150 orang di distrik Itaewon dipajang di gimnasium untuk dikumpulkan oleh kerabat korban, di Seoul pada 1 November 2022. - Di sedikitnya 156 sebagian besar anak muda tewas, dan lebih banyak lagi yang terluka, dalam gelombang massa yang mematikan akhir 29 Oktober di pesta Halloween pasca-pandemi pertama di distrik kehidupan malam Itaewon yang populer di Seoul. (Photo by Anthony WALLACE / AFP) 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, SEOUL - Penyalaan lilin untuk menghormati 156 orang yang tewas dalam tragedi gelombang kerumunan mematikan Halloween di Itaewon, Seoul, diadakan di seluruh Korea Selatan (Korsel) selama akhir pekan.

Beberapa komunitas pun mengumpulkan ribuan orang mengenang momen ini.

Baca juga: Tak Ingin Tragedi Kanjuruhan & Itaewon Terulang di Piala Dunia 2022, Qatar Siapkan Antisipasi

Kegiatan itu memang dilakukan untuk memperingati orang mati, namun beberapa peserta justru memegang simbol yang menyerukan agar Presiden Yoon Suk-yeol mundur dari jabatannya.

Para peserta tampak fokus menyampaikan teguran mereka kepada pemerintahan saat ini.

Pada Sabtu kemarin, ribuan orang berkumpul di pusat kota Seoul, memberikan penghormatan kepada para korban Itaewon dan memegang lilin putih.

Selain lilin putih, terlihat pula simbol berwarna hitam yang menuntut agar Presiden Yoon turun.

Dikutip dari laman www.koreaherald.com, Minggu (6/11/2022), demonstrasi lain yang lebih kecil, yang diadakan oleh anggota muda partai oposisi kecil dan kelompok mahasiswa pada Kamis lalu berbaris dari Stasiun Itaewon ke kantor kepresidenan.

Mereka tampak memegang papan bertuliskan '(tragedi itu) dapat dicegah, negara tidak hadir'.

Baca juga: Kubu Oposisi Tingkatkan Tekanan Pada Pemerintah Korsel Pasca Tragedi Halloween Itaewon

Dengan penyelidikan yang sedang dilakukan untuk mengklarifikasi kesalahan dalam tindakan sebelum dan selama kerumunan massa, beberapa menyatakan keprihatinan tentang pertemuan itu.

"Berkabung adalah tindakan naluri manusia untuk berbagi emosi. Menyimpang dari esensi (berkabung) dan mempolitisasi insiden tragis adalah pelanggaran humanisme," kata Lee, pria berusia 35 tahun yang meminta namanya disamarkan.

Namun beberapa peserta membantah pandangan tersebut.

"Ini bukan salahmu. Jangan salahkan dirimu sendiri," kata Jang Hoon, ayah dari seorang siswa yang tewas dalam tenggelamnya kapal feri Sewol pada 2014.

Baca juga: Ini Polisi ke-2 yang Dicopot Gara-gara Gagal Tangani Tragedi Halloween Itaewon

Jang memimpin kelompok penelitian keselamatan publik pada peringatan Sabtu kemarin.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas