Tribun

Bangun Koalisi dengan China, Rusia Kerahkan Pengebom Strategis di Patroli Udara Asia-Pasifik

Rusia mengerahkan pesawat tempur strategis Tu-95MS untuk patroli udara bersama China di wilayah Asia Pasifik.

Penulis: Namira Yunia Lestanti
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Bangun Koalisi dengan China, Rusia Kerahkan Pengebom Strategis di Patroli Udara Asia-Pasifik
Russia Beyond
Pesawat tempur strategis Tu-95MS milik Rusia yang digunakan untuk patroli udara bersama China di wilayah Asia Pasifik. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com  Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.CO, MOSKOW – Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan bahwa militer negaranya dengan tentara Rusia tengah menerjunkan sejumlah pesawat tempur strategis, termasuk Tu-95MS milik Moskow dan jet pembom strategis H-6K dari China.

Dalam laporan yang dirilis kementerian pertahanan Rusia, patroli udara antara Beijing dan Moskow digelar dengan menggunakan pesawat pengebom selama delapan jam di atas perairan Pasifik Barat, tepatnya di Laut Jepang dan Laut China Timur

"Sebuah grup udara yang terdiri dari pembawa rudal strategis Tu-95MC dari Pasukan Dirgantara Rusia dan pembom strategis XIAN H-6K dari Angkatan Udara PLA melakukan patroli udara di atas perairan Jepang dan Laut China Timur," kata kementerian pertahanan Rusia seperti yang dilansir dari Reuters.

Tak hanya melakukan patroli, aksi manuver pesawat pengebom Tu-95MS dan H-6K yang diselenggarakan pada Rabu (30/11/2022) oleh militer udara Moskow dan Beijing juga turut melakukan serangkaian latihan bersama dengan menyelesaikan misi pendaratan silang di lanud kedua negara.

Baca juga: Rusia Ancam NATO akan Jadi Target Militer Moskow Jika Nekat Pasok Rudal Patriot ke Ukraina

Selama patroli berlangsung pejabat Rusia menegaskan bahwa kedua pesawat yang tidak melanggar wilayah udara negara manapun, manuver ini juga dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum internasional yang berlaku.

Patroli ini merupakan kali pertama yang digelar Rusia dan China, meski Moskow menyebut bahwa kerjasama ini dilakukan sebagai bagian dari rencana kongsi militer 202.

Baca juga: Korsel Luncurkan Jet Tempur, Gertak Aksi Penyusupan Pesawat China–Rusia

Namun Pentagon meyakini bahwa patroli kedua negara ini dilakukan untuk menyatukan kekuatan dalam menghadapi serangan militer Amerika Serikat, mengingat hubungan ketiga negara tersebut tengah menegang.

“Untuk pertama kalinya dalam sejarah patroli udara, pesawat Rusia mendarat di lapangan terbang di Republik Rakyat Tiongkok dan pesawat Tiongkok mendarat di lapangan terbang di wilayah Federasi Rusia,” kata kementerian Moskow.

Baca juga: Sekjen NATO: Dialog Konstruktif dengan Rusia Gagal

Hubungan Rusia dan China yang kian harmonis ternyata telah terjalin sejak beberapa tahun terakhir, kerja sama pertahanan antara Moskow dan Beijing semakin kuat sejak Presiden Rusia Vladimir Putin mengirim pasukannya ke Ukraina pada 24 Februari.

Bahkan di tengah memanasnya hubungan Rusia dengan negara – negara Barat akibat invasi Moskow ke Kiev, Pemerintah China nekat melakukan latihan gabungan dengan Rusia pada September lalu dengan mengirim lebih dari 2.000 tentara bersama dengan lebih dari 300 kendaraan militer, 21 pesawat tempur dan tiga kapal perang.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas