Suara pemuda dalam Pemilu 2024, sekadar ‘token’ atau benar-benar didengar aspirasinya?
Mayoritas pemilih dalam Pemilu 2024 didominasi oleh pemuda, yakni milenial dan Gen Z. Namun, pengamat mengatakan mereka masih dianggap…
Remaja laki-laki berusia 21 tahun ini adalah mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Australia.
“Sejujurnya, saya kurang menyukai capres-capres yang ada. Karena menurut saya tidak ada politisi di Indonesia yang bisa mewakili saya dengan benar," ujarnya dalam wawancara via Zoom.
Ia merasa generasi Z sering dipandang rendah oleh generasi-generasi lebih tua, terutama dalam menyikapi isu-isu politik, krena dianggap kurang berpengalaman atau “sok tahu”. Hal itu membuatnya kurang antusias menyambut kontestasi politik tahun depan.
Meski begitu, ia menyadari pentingnya suara yang ia miliki sebagai warga negara Indonesia dan Gen Z dalam menentukan masa depan Indonesia. Oleh karena itu, Alexand berharap lebih banyak teman-teman sebayanya – khususnya mereka yang tinggal atau bersekolah di luar negeri – mau menggunakan hak suara mereka dalam pemilu nanti.
“Meskipun Anda tidak berada di Indonesia secara fisik, Anda masih memiliki hubungan erat dengan negara asal Anda. Bagaimanapun, Anda dibesarkan di sana. Jika Anda tidak peduli dengan negara Anda, siapa yang akan peduli?” ungkap Alexand.
Studi yang dilakukan Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada Agustus 2022 silam menemukan partisipasi pemilih muda pada pemilu 2019 sebesar 91,3%, naik dari 85,9% pada pemilu 2014.
Namun ketika ditanya pandangannya, persentase anak muda yang menyatakan minatnya pada politik hanya 1,1%. Banyak pemilih muda yang ragu-ragu, pesimistis terhadap situasi politik dan kurang percaya pada elit politik.
Survei yang dilakukan UMN Consulting menemukan 48,25% Gen Z menggunakan hak pilih mereka pada Pemilu 2019, sementara 4,86% memutuskan untuk golput, dan 46,88% belum memiliki hak pilih pada tahun tersebut.
Studi lain mengungkapkan bahwa banyak remaja mengindentifikasi diri mereka sebagai golput (bukan partisipan dalam proses politik), apatis secara politik, dan bersikap pasif dalam politik meskipun mereka hidup di lingkungan politik yang lebih liberal.
Pengamat komunikasi politik dari Universitas Multimedia Nusantara, Silvanus Alvin, mengatakan Gen Z sebenarnya tidak apatis terhadap permasalahan politik. Menurutnya, mereka cukup melek politik karena terpapar banyak informasi lewat media sosial.
“Masalahnya, masih ada [anak muda] yang menganggap politik bukan bagian dari mereka dan juga politik itu identik dengan hal yang kotor,” kata Silvanus.
Lebih jauh Silvanus mengatakan bahwa Gen Z memiliki preferensi sosok pemimpin yang mereka inginkan. Antara lain, tidak memiliki rekam jejak korupsi, peduli akan isu-isu lingkungan dan melek teknologi, serta tahu cara memanfaatkannya untuk masa depan.
Sementara, ia menilai pemilih milenial – yang lahir satu generasi lebih awal dibanding Gen Z – cenderung lebih pragmatis dalam menentukan pilihan capres. Mereka lebih fokus pada program-program kerja dan gagasan dari masing-masing capres.
Baca tanpa iklan