Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
BBC

Suara pemuda dalam Pemilu 2024, sekadar ‘token’ atau benar-benar didengar aspirasinya?

Mayoritas pemilih dalam Pemilu 2024 didominasi oleh pemuda, yakni milenial dan Gen Z. Namun, pengamat mengatakan mereka masih dianggap…

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Suara pemuda dalam Pemilu 2024, sekadar ‘token’ atau benar-benar didengar aspirasinya?
BBC Indonesia
Suara pemuda dalam Pemilu 2024, sekadar ‘token’ atau benar-benar didengar aspirasinya? 

Hal ini menunjukkan bahwa politik di mata orang muda masih memiliki konotasi menyeramkan, menurut Rio Chan, anggota Trio Netizen lainnya.

 

“Anak muda lain bertanya 'kok bisa sih seberani itu?'. Kita takut juga kalau kenapa-kenapa, tapi kita ingin membawa [isu politik] dengan lebih asyik aja. Dan mudah-mudahan politik ke depannya akan se-asyik itu,“ tutur Rio.

Selain Trio Netizen, ada pula kelompok lain yang menggunakan sarana internet untuk mengangkat kesadaran masyarakat tentang isu politik.

Abigail Limuria, generasi milenial berusia 27 tahun, bekerja sama dengan lembaga kebijakan publik Think Policy membentuk situs bijak memilik.id guna membantu para pemilih mengenal partai politik dan calon pemimpin yang turut dalam kontestasi Pemilu 2024.

“Bijak Memilih adalah sebuah eksperimen dimana kita kasih platform informasi berkualitas dan dapat diakses. Kita lihat apakah akan digunakan, apakah akan mempengaruhi keadaan demokrasi di Indonesia,” kata Abigail kepada BBC News Indonesia.

Menurut Abigail, para pemilih muda kini semakin berani mengungkapkan pendapat, dibandingkan pada pemilu-pemilu sebelumnya. Ia menyebut media sosial sebagai katalis utama fenomena tersebut.

Rekomendasi Untuk Anda

“Ini pertama kalinya ada pemilu di era saat media sosial sudah secanggih sekarang. Pemilu sebelumnya belum sampai tahap itu, TikTok belum sampai seviral ini dan tentu dengan ada media sosial semakin mempermudah siapapun untuk bersuara,” ungkap Abigail.

Konten pada situs Bijak Memilih memaparkan profil dan rekam jejak partai serta topik isu yang menjadi perhatian pemilih muda, seperti perubahan iklim, pendidikan dan kecerdasan buatan (artificial inteligence).

Meskipun Abigail merasa pembahasan terkait isu-isu tersebut mulai dibicarakan oleh sejumlah politisi, namun dia merasa masih ada politisi yang memandang pemuda sebagai “token”, atau komoditas yang hanya sekadar ditampilkan.

“Dijadikan token, produk, bukan benar-benar di-engage. Itu tentu masih banyak. Tapi, menurutku mulai ada tren politisi-politisi yang benar-benar ingin membahas permasalahan-permasalahan anak muda,” ujar Abigail.

Masalah-masalah apa yang sebenarnya dihadapi pemuda?

Menurut peneliti politik dari BRIN, Aisah Putri Budiarti, ada sejumlah masalah yang dihadapi generasi muda di Indonesia, antara lain terkait pendidikan, kesehatan dan lapangan pekerjaan.

“Yang paling melekat yaitu terkait pendidikan. Usia gen Z rata-rata masih sekolah, kuliah, atau baru lulus. Di luar itu, milenial adalah usia produktif yang beberapa punya anak yang sekolah juga,” ujar peneliti yang akrab disapa Puput tersebut.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2022, rata-rata pemuda Indonesia hanya mampu bersekolah 10,75 tahun. Artinya, kebanyakan dari mereka terpaksa putus sekolah ketika duduk di bangku kelas 2 SMA.

 

Sementara rata-rata pemuda penyandang disabilitas, hanya mampu bersekolah selama 7,71 tahun, yang berarti mereka terpaksa putus sekolah di bangku SMP kelas 2. Adapun, sebanyak 171 ribu pemuda di Indonesia tercatat mengalami buta huruf.

Puput juga mengatakan banyak pemuda masih belum sejahtera secara sosial-ekonomi. Sekitar 25,2 juta pemuda hidup dalam rumah tangga berpendapatan rendah dan 26,4 juta lainnya tinggal dalam rumah tak layak hidup.

Dari segi lapangan pekerjaan, pada Agustus 2022, angka pengangguran kelompok usia muda (15-24 tahun) menjadi yang tertinggi, mencapai 20,63% dari total pengangguran Indonesia.

Bahkan, 17,6 juta pemuda berstatus tidak bekerja, tidak bersekolah, atau menerima pelatihan.

Tak hanya itu, data BPS pada 2022 juga menunjukkan kaum muda masih belum sepenuhnya aman tinggal di Indonesia. Sebab, 2,97 juta pemuda menjadi korban penganiayaan dan 1,2 juta mengalami pelecehan seksual.

Menurut Puput, gagasan dari ketiga bakal capres masih terkesan generalis, dan belum membahas secara spesifik masalah-masalah yang dihadapi pemuda di luar sekadar jargon politik.

Sehingga, pemilih pun menjadi bingung ketika memilih calon berdasarkan program kerja yang mereka tawarkan.

“Kalau mereka peduli dengan anak muda secara serius, hal-hal seperti ini seharusnya masukdan dijadikan pembahasan oleh mereka. Semua masalah pasti akan jadi bahasan politisi dan partai politik,” ujarnya.

Oleh karena itu, Puput berharap dalam Pemilu 2024 mendatang, politisi tidak hanya memandang kaum muda sebagai kelompok pemilih jangka-pendek, melainkan sebagai komunitas yang harus diprioritaskan dalam merencanakan masa depan bangsa.

“Apakah mereka menggarisbawahi masalah-masalah ini di program mereka atau kampanye mereka? Kalau mereka benar-benar peduli dengan lebih dari 50% pemilih itu,” kata Puput.

Dalam acara Mata Najwa di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, yang disiarkan lewat YouTube secara langsung pada Selasa (19/09), kandidat presiden Anies Baswedan, Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto, memaparkan gagasan dalam Pilpres 2024, beberapa berkaitan dengan generasi muda

Ketiganya mengedepankan hadirnya negara dalam mewujudkan akses pendidikan yang adil, menambah lapangan kerja, dan menyediakan jaminan kesehatan bagi seluruh rakyat, mulai dari lahir hingga tua.

Mereka juga menekankan penegakan hukum, khususnya dalam memberantas praktik korupsi.

Pada giliran pertama, Anies Baswedan, kandidat presiden dari Koalisi Perubahan yang antara lain didukung oleh Partai Nasdem dan Partai Keadilan Bangsa (PKB), menekankan pentingnya kampus kembali menjadi ruang bebas menyampaikan pendapat.

Ia juga memberikan motivasi pada generasi sandwich, yang harus mencari nafkah untuk orang tua mereka, sekaligus diri sendiri.

Sementara Ganjar Pranowo, kandidat presiden yang didukung partai yang berkuasa, PDI-Perjuangan, mengangkat soal upaya mengatasi perubahan iklim, yakni dengan pengurangan emisi gas rumah kaca dan peralihan ke energi baru dan terbarukan.

Ia juga menekanan pentingnya digitalisasi, baik infrastruktur maupun literalisasi digital.

Adapun Prabowo Subianto, yang sejauh ini didukung koalisi sejumlah partai besar seperti Partai Gerindra, Partai Golkar dan Partai Amanat Nasional (PAN), menjelaskan sejumlah progam prioritas, termasuk program rumah murah untuk masyarakat desa dan pemberantasan narkoba untuk meningkatkan kualitas generasi muda.

Ia juga akan melanjutkan program kartu Indonesia sehat, kartu Indonesia pintar, kartu sembako, dan kartu pra kerja.

Bagaimana capres memandang generasi muda?

Juru bicara tim kampanye Anies Baswedan, Angga Putra Fidrian, menyatakan Anies ingin menghindari memperlakukan pemilih muda sebagai “objek” menjelang kontestasi Pemilu 2024.

“Banyak [calon] yang memilih strategi untuk menjadikan mereka sebagai objek, [misalnya mereka] pakai baju dan sepatu seperti anak muda, ajak anak muda bikin konten TikTok,” kata Angga.

Menurut Angga, Anies ingin mendapatkan umpan balik atau masukan langsung dari generasi muda untuk program-program kerjanya ke depan.

“Beliau mengundang anak-anak muda untuk datang, untuk berkontribusi dan tidak hanya di momentum itu saja. Secara rutin ada acara-acara di daerah dan bertemu dengan anak muda dan menggalang masukan mereka,” ujarnya.

 

Anggota tim sukses Prabowo Subianto, Virgandhi Prayudantoro, mengatakan pemilih muda membutuhkan pemimpin yang memiliki visi-misi jelas dan berpihak pada kaum muda dalam memimpin negara.

“Jadi bukan menggunakan atribut-atribut seperti anak muda, tapi gagasan besar atau visi misinya yang berpihak pada anak muda. Dan itu sudah disiapkan, disebarkan, dipublikasikan dalam beberapa momen,” tutur Gandhi.

Sejauh ini, kata Gandhi, Prabowo sudah mengedepankan program-program yang mendukung kaum muda, contohnya pengembangan industri kreatif dan menyiapkan wadah bagi pemuda untuk lebih berkontribusi dalam politik.

“Momen dari anak muda yang baru sekarang mulai memilih, kita persiapkan di 2045. Program-programnya sudah kita canangkan saat ini dan bisa dijalankan secara berjenjang,” sebutnya.

Ketua Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar Pranowo, Arsjad Rasjid, mengungkapkan pemilih muda perlu sadar politik karena politik berpengaruh pada kehidupan mereka, terutama dalam pembentukan masa depan.

“Banyak juga yang sudah bilang 'oh gue nggak mau memilih, ah politik ngapain sih. Padahal, kami perlu mengedukasi generasi muda bahwa politik membentuk negara dan masa depan. Mereka harus peduli tentang politik,” ucapnya.

Ia mengatakan Ganjar memiliki kepribadian yang cocok dengan kaum muda. Tak hanya itu, ia juga memiliki putra bernama Alam yang merupakan seorang Gen Z, sehingga Ganjar pun menerima masukan dari anaknya dan teman-temannya.

“Kami sangat senang ketika dikritik. Kami mengundang dari semua sektor. Mulai dari yang muda-muda dan semua kita undang. Karena kita mau mendengar, supaya inklusif,” kata Arsjad.

Di tengah hiruk-pikuk kontestasi politik yang semakin dekat dengan Pemilu 2024, Etta mengatakan ia dan teman-temannya belum merasakan “antusiasme” atau “tergiur untuk memilih” dalam pemilu.

Pasalnya, mereka masih merasa suara pemuda tidak didengar oleh para politisi.

“Padahal mau enggak mau pasti suara orang muda harus didengar. Karena zaman maju terus, dan semakin lama orang muda akan menjadi generasi tenaga kerja utama di negara ini. Jadi cepat atau lambat suara-suara itu bakal terdengar,” kata Etta.

Meski begitu, ia sendiri masih menaruh harapan suatu saat pemerintah memberi ruang bagi generasi muda dan kaum minoritas seperti dirinya dalam membuat kebijakan-kebijakan yang akan mempengaruhi hajat hidup orang banyak.

“Ketika kita mengimplementasikan solusi untuk suatu minoritas, bisa jadi solusi itu juga menguntungkan bagi golongan-golongan lainnya. Jadi menurutku penting untuk memperhatikan minoritas dan juga orang muda,” tegas Etta.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 4/4
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas