Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
BBC

Suara pemuda dalam Pemilu 2024, sekadar ‘token’ atau benar-benar didengar aspirasinya?

Mayoritas pemilih dalam Pemilu 2024 didominasi oleh pemuda, yakni milenial dan Gen Z. Namun, pengamat mengatakan mereka masih dianggap…

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Suara pemuda dalam Pemilu 2024, sekadar ‘token’ atau benar-benar didengar aspirasinya?
BBC Indonesia
Suara pemuda dalam Pemilu 2024, sekadar ‘token’ atau benar-benar didengar aspirasinya? 

Pengamat politik dari BRIN, Aisah Putri Budiarti mengatakan generasi muda rata-rata merupakan swing voters yang ingin bebas menentukan pilihan serta menyatakan pendapat. Di sisi lain, para capres sudah mulai membentuk citra untuk menarik minat para pemilih muda.

“Jadi mereka lihat dulu, baik itu calon politisi atau partai politik yang menarik, pilihan itu bisa [ditentukan] nanti,” ujar Puput.

Setiap tahun pemilu, kata Puput, suara pemilih muda memang selalu mencakup lebih dari 50% suara. Namun, penggunaan media sosial sebagai sarana untuk berkampanye demi menggaet pemilih muda dalam pemilu kali ini, membuat situasinya lebih genting.

Sebab, sambung Puput, kebanyakan generasi muda, terutama pemilih muda, memiliki akses yang intens dengan media sosial. Sebagian besar informasi tentang situasi politik pun mereka dapat dari media sosial.

Namun, di sisi lain, banyak pemilih muda yang memanfaatkan media sosial untuk membangun kesadaran politik.

“Anak muda itu memanfaatkan media sosial untuk menantang para capres lebih jauh berbicara tentang program, pemikiran, visi-misi dan lain-lain. Itu sebenarnya juga bisa menularkan ke anak muda untuk menyadarkan yang lain,” katanya.

Apakah pemilih muda hanya sekedar ‘token’ dalam kontestasi politik?

Berdiri di atap sebuah bangunan indekos yang dijuluki The Raid, tempat singgah sejumlah komika Indonesia di Palmerah, Jakarta Barat, tiga pemuda bernama Eki Priyago, Rio Chan dan Sandi Sukron — dijuluki Trio Netizen — sedang bersiap-siap membuat konten.

Rekomendasi Untuk Anda

Trio Netizen menjadi viral setelah konten mereka yang mengkritik para capres dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat DPR beberapa kali masuk halaman yang merekomendasi konten untuk pengguna alias for you page (fyp )TikTok.

Video mereka seringkali menggunakan judul ‘Ngejulid’in ….” diikuti dengan subyek yang mereka kritik. Konten mereka bertajuk ‘Ngejulid’in Anies Baswedan’ sudah ditonton lebih dari 10 juta kali.

Konten mereka yang lain berjudul ‘Ngejulid’in Ganjar Pranowo, telah ditonton 5,2 juta kali. Akun dengan nama Netizen (@sandisukron) di TikTok kini memiliki 30 ribu pengikut dan disukai sebanyak 1,8 juta kali.

“Mereka merasa terwakilkan, karena apa yang ingin mereka tanyakan tentang fakta-fakta itu bisa lewat saya. Bahkan sekarang pun banyak yang request bahas topik,” kata Sandi, komika asal Bandung yang memulai karirnya dengan menyelipkan isu politik dalam materi kontennya.

“Walaupun sebenarnya saya bukan orang yang paham politik, tapi saya cukup memperhatikan itu. Karena banyak sekali masalah atau kasus yang cukup menggelikan terjadi di politik kita,” tambahnya.

Melihat cara para politisi berkomunikasi dengan pemilih muda, baik lewat konten, gaya bahasa maupun diskusi di lembaga pendidikan, Eki mengatakan pemilih muda masih sulit merasa dekat dengan para kandidat presiden.

“Banyak kampanye dari capres-capres ini yang saya rasa terlalu memaksakan untuk masuk ke ranah anak muda, tapi kita enggak tahu bagaimana substansinya dan akan dibawa sejauh apa,” ungkap Eki.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 3/4
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas