Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Bos Intel IDF Mundur, Malu karena Gagal Cegah Serangan Hamas ke Israel

Kepala intelijen militer IDF Aharon Haliva mengumumkan pamit dari kursi jabatannya lantaran gagal mencegah serangan mematikan Hamas 7 Oktober lalu.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Bos Intel IDF Mundur, Malu karena Gagal Cegah Serangan Hamas ke Israel
The Times of Israel
Kepala intelijen militer pada Angkatan Bersenjata Israel (IDF) Aharon Haliva mengumumkan pamit dari kursi jabatannya lantaran gagal mencegah serangan mematikan Hamas pada 7 Oktober tahun lalu. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, TEL AVIV – Kepala intelijen militer pada Angkatan Bersenjata Israel (IDF) Aharon Haliva mengumumkan pamit dari kursi jabatannya lantaran gagal mencegah serangan mematikan Hamas pada 7 Oktober tahun lalu.

Pengunduran diri mencuat tak lama setelah kepala staf militer Israel mengaku telah menerima surat Haliva yang mengatakan bahwa pihaknya tak bisa menjalankan tugas negara dengan baik.

Hingga membuat 1.200 nyawa warga Israel melayang serta 250 orang lainnya dinyatakan sebagai sandera perang, alasan ini yang membuat Haliva terpukul dan menyalahkan diri sendiri karena gagal menjamin keamanan bagi penduduk Israel.

"Saya menanggung rasa sakit akibat perang selamanya. Hari-hari saya kelam sejak saat itu, hari demi hari, malam demi malam," ujar Haliva dalam suratnya, dikutip dari Euro News.

Keputusan ini menjadikan Haliva sebagai tokoh senior pertama di Israel yang mengundurkan diri terkait kegagalan mencegah serangan Hamas.

Belum diketahui siapakah sosok yang nantinya akan menggantikan tugas dari Haliva.

Rekomendasi Untuk Anda

Namun sejumlah analis memperkirakan bahwa para pejabat senior Israel dalam waktu dekat juga akan mengikuti jejak Haliva dengan melakukan resign massal lantaran merasa gagal menjalankan tugas dan negara mencegah serangan Hamas 7 Oktober lalu.

Baca juga: Iran-Israel Berkonflik, BPS: Keduanya Bukan Mitra Dagang Utama RI

Sementara itu merespon pengunduran diri yang dilakukan Haliva, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah mengakui kesalahan para militernya yang lalai atas serangan tersebut.

Ekonomi Israel Boncos

Situasi perang di Gaza dan Konflik Timur Tengah yang kian memanas, mendorong Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu untuk menggelontorkan lebih banyak biaya guna memperkuat armada militernya, bengkak jadi 50 miliar shekel atau setara Rp 113 triliun selama agresi.

Jumlah anggaran itu naik hampir tiga kali lipat bila dibandingkan dengan pengeluaran Israel sebelum perang pecah pada 7 Oktober silam, dimana saat itu anggaran militer Israel telah mencapai 30 miliar shekel.

Selain anggaran perang saja yang melonjak, dalam catatan yang dirilis PM Netanyahu menjelaskan bahwa total belanja anggaran pada tahun 2024 ikut meningkat menjadi 562,1 miliar shekel. Hingga Israel mengalami defisit anggaran sebesar 5,9 persen dari produk domestik bruto.

Tekanan ini lantas membuat lembaga pemeringkat internasional, Moody's, yang menurunkan peringkat surat utang Israel dari A1 menjadi A2.

Banyak Warga Terlilit Utang, Anak-anak Dipaksa Puasa

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas