Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
BBC

Ketika kaum muda di Myanmar memberontak terhadap junta militer dan berhasil mengubah arah perang

Wartawan BBC Quentin Sommerville menghabiskan satu bulan bersama pasukan pemberontak di hutan dan di garis depan di Myanmar. Ia melihat…

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Ketika kaum muda di Myanmar memberontak terhadap junta militer dan berhasil mengubah arah perang
BBC Indonesia
Ketika kaum muda di Myanmar memberontak terhadap junta militer dan berhasil mengubah arah perang 

“Kami telah mengepung Anda. Tidak mungkin helikopter bisa datang. Bantuan dari pasukan darat? Tidak ada. Kami memberimu waktu untuk memutuskan apakah akan membelot ke pihak rakyat.”

Hanya ada keheningan dari kamp militer di bawah bukit.

Nay Myo Zin mendesak mereka untuk meninggalkan Min Aung Hlaing, jenderal yang memimpin junta militer.

“Kalian semua akan selamat. Ini adalah jaminan terbesar yang bisa saya berikan. Jadi, jangan bodoh. Apakah Anda ingin melindungi kekayaan kotor tiran Min Aung Hlaing sampai akhir hayat? Sekarang, saya menunggu untuk menyambut Anda.“

Beberapa detik berlalu, dengan hanya ada suara lalat berterbangan di atas bukit, yang mungkin saja menandakan pasukan militer junta sedang mempertimbangkan respons mereka.

Menyerah bukanlah keputusan yang mudah. Kalau mereka membelot dan kembali ke daerah yang dikuasai militer, mereka mungkin akan dihukum mati.

Tentara militer Myanmar menjawab ajakan itu dengan kembali menembaki bukit berbatu sehingga para pemberontak menunduk dan berlindung.

Rekomendasi Untuk Anda

Meski diserang, Nay Myo Zin tetap berbicara lewat mikrofon. Ia memerintahkan pasukannya lewat radio untuk mencoba pendekatan berbeda.

Sementara, kepada pasukan militer Myanmar, ia mengumpat dan memaki mereka.

Kedua sisi saling mengumpat, Nay Myo Zin menyebut mereka “anjing penjaga” Min Aung Hlaing dan menuding mereka mengkhianati negara.

Para prajurit militer Myanmar membalas dengan makian pula. Di tengah kondisi yang tidak bisa dijangkau penambahan pasukan atau stok makanan, mereka tetap gentar dan memegang kepercayaan bahwa militer berhak menguasai Myanmar.

Perbedaan ideologi antara dua pihak itu sulit dijembatani.

Upaya saling tarik-ulur itu berlanjut sampai sekitar 30 menit sebelum pasukan pemberontak memutuskan untuk mundur.

Saat Nay Myo Zin secara antusias memberikan pidatonya agar pasukan militer mau menyerah, ia tidak sengaja memberitahu letak mereka (“Saya 360 meter dari pengeras suara”, katanya) dan mereka khawatir akan terjadi serangan meriam atau mortir.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 3/4
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas