Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
BBC

Ketika kaum muda di Myanmar memberontak terhadap junta militer dan berhasil mengubah arah perang

Wartawan BBC Quentin Sommerville menghabiskan satu bulan bersama pasukan pemberontak di hutan dan di garis depan di Myanmar. Ia melihat…

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Ketika kaum muda di Myanmar memberontak terhadap junta militer dan berhasil mengubah arah perang
BBC Indonesia
Ketika kaum muda di Myanmar memberontak terhadap junta militer dan berhasil mengubah arah perang 

Pemberontakan di Myanmar bukan hanya sekedar perang ideologi, namun sebuah perang antargenerasi. Pemuda melawan pihak yang berkuasa agar bisa bebas dari orde lama.

Kaum muda yang terhubung melawan kaum elite yang tidak sama sekali peka.

Kaum muda di Myanmar yang dulu mendengar cerita-cerita tentang revolusi gagal, merasa sudah saatnya mereka berjuang.

Setelah melewati setengah abad di bawah kuasa junta militer, Myanmar sempat melakukan percobaan singkat berupa pemerintahan demokrasi pada 2015 di bawah pimpinan Aung San Suu Kyi dan Liga Nasional untuk Demokrasi.

Bagi kebanyakan orang muda, tahun-tahun percobaan sistem demokrasi itu – meski dilanda masalah juga – menandakan masa kebebasan yang berakhir terlalu cepat.

Setelah militer melancarkan kudeta, aksi protes yang damai malah dibalas dengan pembunuhan dan penangkapan. Kebanyakan dari mereka yang ikut berjuang menyatakan tidak ada alternatif lain selain mengangkat senjata.

Ribuan orang muda di Myanmar putus sekolah dan meninggalkan karier di kota-kota besar seperti Yangon. Sebagian dulunya bekerja sebagai dokter, ahli matematika dan ahli pencak silat.

Rekomendasi Untuk Anda

Kini, mereka pergi jauh dari kota-kota itu untuk bergabung dalam kelompok etnis dan pemberontakan untuk melawan rezim militer.

Di garda depan perlawanan, semua prajuritnya berusia di bawah 25 tahun.

Nam Ree, seorang pemuda berusia 22 tahun yang bergabung dalam Pasukan Pembela Karenni Nasional (KNDF), menjelaskan mengapa ia ikut dalam pemberontakan.

"Anjing-anjing [hinaan yang biasa digunakan untuk militer] ini tidak berlaku adil. Kudeta militer mereka melanggar hukum. Kami, kaum muda, tidak puas dengan itu," katanya.

Dia mengenakan sandal jepit, cat kuku berwarna biru, celana panjang pudar dan sabuk amunisi di atas kaosnya yang bercorak Barcelona FC.

Berbeda dengan pria-pria di sekitarnya, Nam Ree memiliki helm balistik. Tidak ada prajurit lain yang memiliki pelindung tubuh.

KNDF merupakan pasukan baru berisi prajurit-prajurit muda dan komandan yang muncul setelah terjadi kudeta.

Kelompok etnis bersenjata telah berjuang melawan militer di Karenni, yang juga dikenal sebagai Negara Bagian Kayah, selama puluhan tahun. Tetapi berkat KNDF, mereka bersatu dan dapat mengalahkan musuh di lapangan.

Junta militer mulai goyah pada 27 Oktober tahun lalu ketika aliansi kelompok-kelompok pemberontak dari bagian utara Myanmar mengambil alih titik-titik militer dan perbatasan.

Puluhan kota-kota kecil lain di Myanmar berhasil dikuasai oleh pihak pemberontak. Pasukan militer masih berkuasa atas kota-kota utama, namun mulai kehilangan kendali atas daerah pedasaan dan perbatasan Myanmar.

KNDF mengatakan mereka, dan kelompok-kelompok pemberontak lainnya, mengendalikan 90% dari wilayah Karenni.

Meskipun Karenni merupakan negara bagian Myanmar terkecil, tetapi kini telah menjadi pusat perlawanan yang kuat.

Di bawah pepohonan mangga, terdapat wakil komandan KNDF yang kuat dan bertato, Maui Pho Thaike.

Maui Pho Thaike merupakan ahli pelestarian lingkungan yang sempat menempuh pendidikannya di Amerika Serikat. Ia pertama kali mengangkat senapan tiga tahun yang lalu.

Ia tidak mengakui junta militer sebagai pemerintah resmi. Karena mereka adalah penindas kelompok-kelompok etnis di Myanmar, katanya.

Maui mengatakan satu negara sekarang sedang berjuang melawan militer.

“Strategi yang kami gunakan sudah berubah. Semua serangan sekarang terkoordinasi,“ ucapnya.

KNDF memiliki banyak prajurit, tetapi amunisi dan senjata masih sangat sedikit dan perlu pasokan lebih. Perjuangan mereka sebagian besar didanai oleh donasi dari diaspora Myanmar.

“Kami memiliki hati dan [keteguhan] moral yang cukup, kami memiliki kemanusiaan. Itulah cara kami mengalahkan mereka,“ ujar Maui.

Di tangannya terdapat tato bertulisan “pemikir bebas”, dari zaman yang berbeda, ketika Myanmar masih berupaya menjalankan demokrasi.

Apakah Anda masih seorang pemikir bebas, saya tanya kepadanya.

“Dalam seragam ini, tidak,“ kata Maui. “Tetapi tanpa seragam [prajurit], saya pria yang bebas. Itu mimpi kami. Kami akan mewujudkannya kembali.”

'Dia sangat sedih karena tidak bisa ikut berjuang'

Saat memasuki ke Myanmar, Anda pergi ke negara yang tidak hanya dilanda perang, tetapi juga negara yang hilang kontak dengan dunia luar.

Kebanyakan dari jaringan ponsel, internet, dan listrik di Karenni telah dipadamkan. Walaupun militer mengalami kemunduran, tetapi prajurit mereka masih mengawasi jalanan-jalanan utama Karenni.

Perjalanan sejauh 60 kilometer dari Hpasang ke arah utara menuju kota Demoso membutuhkan waktu lebih dari 10 jam jika melalui jalanan berbatu, melewati perbukitan, sungai dan lembah.

Di rumah sakit tengah hutan, pejuang-pejuang muda dari KNDF berbaring di tempat tidur rumah sakit dan lantai kotor.

Beberapa prajurit tersenyum dan mengacungkan jempol, meski banyak yang kehilangan lengannya.

Aung Ngle, 23 tahun, kaki kirinya bengkak setelah terkena serpihan peluru saat pasukannya menyerang pangkal militer.

Ia tidak bisa berbicara karena kesakitan, tapi ia mulai menangis. Tiga rekannya datang untuk menghiburnya.

Aung Ngle tidak bisa dioperasi di rumah sakit itu, ia harus menempuh perjalanan panjang ke Thailand untuk mendapatkan perawatan.

Saya bertanya kepada dokter apakah Aung Ngle akan selamat.

“Ia akan baik-baik saja,” kata dokter itu. ”Tetapi sekarang, saya pikir dia sangat sedih karena tidak bisa ikut berjuang.”

Dalam berbagai hal, konflik ini berasal dari zaman lain, sifatnya brutal dan intim. Pertempuran di Moebye berlangsung selama beberapa hari dari jarak dekat.

Satu pria memiliki banyak luka di tangan, kaki dan perutnya. Ia terkena serangan granat tangan. Pasukannya berusaha menyelamatkan komandan yang tertembak di kaki saat granat itu datang.

“Jaraknya dekat, sekitar 30 kaki,” katanya.

Perebutan wilayah antara militer dan pemberontak

Kami melihat peperangan berlangsung saat pergi ke wilayah Shan, mengarah ke kota Hsihseng.

Di sekitar sana, militer sedang menyiapkan serangan balasan dengan mengambil alih jalur menuju Loikaw, ibu kota negara bagian itu yang juga merupakan wilayah perebutan.

Militer belum berhasil menguasai daerah itu, tetapi KNDF sedang unggul di bawah pimpinan pejuang bernama Darthawr.

Dia, seperti kebanyakan prajurit, terluka akibat serangan dan bekas luka berwarna merah tua berada di bawah lengan kaosnya.

”Bagi kami, membela tempat ini sama halnya seperti membela rumah kami,” katanya. Ia mengenakan celana pendek dan sendal. Sama seperti pasukannya yang lain, ia tidak memiliki pelindung tubuh.

Kami pun tidak mengenakan pelindung tubuh.

Ketika kami berdiri di bukit rendah dekat perkebunan pisang, Darthawr menunjuk ke posisi militer, yang jaraknya 1,5 kilometer.

Peluru berjatuhan dekat kami dan kami bergegas mencari parit dangkal. Tembakan peluru, mungkin jenis mortir, semakin mendekat

Suara tembakan otomatis terus terdengar dari jarak dekat, para prajurit ternyata berada di tempat yang lebih dekat dari perkiraan awal.

Kami langsung menyadari bahwa sekelompok tentara sedang melewati lahan ranjau menuju posisi itu. Kami langsung bergegas pergi dengan cepat di tengah hujan peluru.

Sebuah mortir bahkan menghantam jalanan tepat di depan mobil kami.

"Pasukan mereka terluka, itulah mengapa mereka menembak secara acak ke mana-mana," jelas Darthawr.

Kemeriahan upacara wisuda prajurit pemberontak

Pada upacara wisuda pasukan pemberontak yang diselenggarakan di tengah hutan, prajurit-prajurit muda dengan pangkat-pangkat berbeda berbaris dalam formasi.

Mereka memberi hormat kepada pimpinan KNDF, sepatu bot mereka menginjak debu tanah.

Para pemuda dan pemudi, kebanyakan baru berusia 18 tahun, berbaris mengikuti irama lagu bahasa Inggris bertajuk Warrior. Liriknya berbunyi:

Saya yang pulang terakhir, tetapi berangkat pertama

Tuhan, bunuh saya sebelum saya menjadi tua.

Saya seorang prajurit dan saya terus berbaris

Saya seorang pejuang dan ini lagu saya

Ada lebih dari 500 prajurit, jumlah perekrutan terbanyak yang tercatat. Pasukan pemberontak bertambah banyak setelah junta militer mengeluarkan perintah wajib militer lantaran mulai kekurangan SDM.

Saat terakhir kali saya melihat pasukan itu, mereka sedang berlatih menggunakan senapan bambu. Kini, mereka memegang senjata asli.

Komandan mereka, Maui, mengatakan mereka tidak memiliki cukup waktu untuk berlatih.

“Strategi kami seperti ini, kami mengatur pelatihan intensif selama satu bulan, kemudian kami berangkat bertempur.”

Setelah upacara selesai, suasana menjadi liar. Seorang rapper muda, MC Kayar Lay, yang ikut juga wisuda hari itu, membuat prajurit lainnya menari-nari dan merayakan kelulusan mereka.

Memang sulit untuk memprediksi ke mana arah pemberontakan akan berjalan. Untuk kedua kubu, perang ini bersifat eksistensial dan dipenuhi tumpah darah dan kepahitan. Seperti tidak ada jalan keluar.

Setelah tiga setengah minggu, kami kembali ke Hpasang. Pangkalan militer, yang sebelumnya hendak diserbu oleh pasukan pemberontak, tetap berdiri utuh.

Militer Myanmar telah berusaha mengirimkan bantuan, berupa 100 orang, tetapi dalam pertempuran melawan pemberontak, 57 tentara tertangkap dan sisanya kabur atau terbunuh.

Tentara gagal menambah pasokan mereka, tetapi pertempuran dengan pasukan pemberontak membawa dampak lain. Persediaan peluru mereka berkurang drastis sehingga mereka tidak bisa meluncurkan serangan balasan.

Sehari sebelum kami sampai, pesawat militer menjatuhkan bom terhadap bukit di atas Hpasang. Serangan udara itu membunuh tiga pemuda yang kami temui tadi siang dan melukai 10 lainnya.

Sebelumnya, sempat terdengar suara musik dan nyanyian dari posisi mereka dekat Sungai Salween yang luas. Mereka terlihat cukup santai sambil menunggu musuh datang.

Namun, kini suasannya menjadi gelap. Ajakan awal untuk membelot sudah ditinggalkan. Sekarang, mereka akan bertempur hingga mati.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 4/4
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas