Agresi Israel-Amerika ke Iran dan Ilusi Pergantian Rezim Teheran
Putin sambut Menlu Iran di Moskow, perkuat aliansi usai serangan AS-Israel. Rusia tegaskan dukungan atas kedaulatan Teheran.
Editor:
Glery Lazuardi
Tetapi alih-alih memicu pemberontakan, Israel justru mendapatkan pukulan telak yang bersejarah karena rakyat Iran bersatu mendukung pemerintah dan militer.
Operasi Singa Bangkit yang digelar Israel secara sistematis sejak 13 Juni 2025, dikampanyekan sebagai keberhasilan revolusi baru rakyat Iran.
Media arus utama barat melegitimasi agresi itu sebagai konsekuensi pencegahan karena Iran tinggal menghitung hari lagi untuk memproduksi bom nuklir.
Baca juga: Fasilitas Nuklir Iran, Fordow: Mengapa Dia Dilindungi dengan Sangat Baik 80 Meter di Bawah Tanah?
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyamakannya operasi mereka sama dengan pemboman reaktor Osirak di Irak tahun 1981.
Israel menginginkan serangan strategis yang diperlukan untuk mencegah pemusnahan dan ancaman eksistensial bagi bangsa dan negara Yahudi itu.
Lebih dari 200 jet tempur Israel dikirim sebagai serangan pembuka, dengan serangan penetrasi dalam dan perang siber yang dijalankan bersamaan.
Pertahanan udara dan instalasi radar Iran termasuk yang pertama diserang. Mossad dan pasukan sekutu menggunakan agen proksi untuk memicu sabotase internal.
Serangan pesawat nirawak dari dalam wilayah Iran diarahkan ke pertahanan udara Iran. Bom mobil diledakkan di kota-kota besar untuk menimbulkan kepanikan.
Rudal panggul dan drone pembunuh digunakan sebagian untuk melenyapkan ilmuwan-ilmuwan dan jenderal-jenderal Iran di tempat tinggal masing-masing.
Israel dan Amerika di belakang layar operasi ini meyakini momentumnya sangat tepat, dengan asumsi Iran sedang goyah oleh sanksi dan isolasi.
Masyarakatnya sedang bergejolak atas situasi buruk kehidupan mereka, dan kepemimpinan Teheran juga tengah retak.
Namun semua hanyalah khayalan. Apa yang muncul sejak serangan Israel pada 13 Juni bukanlah keruntuhan rezim, tapi kehadiran negara yang beradaptasi di bawah tekanan.
Bertentangan dengan narasi barat, serangan yang menewaskan Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Jenderal Hussein Salami tidak merusak postur strategis Iran.
Dalam hitungan jam, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan kembali kendali Artesh (militer konvensional) atas pertahanan nasional.
Ia mengangkat komandan baru, dan mengaktifkan protokol serangan yang telah direncanakan sebelumnya.