Agresi Israel-Amerika ke Iran dan Ilusi Pergantian Rezim Teheran
Putin sambut Menlu Iran di Moskow, perkuat aliansi usai serangan AS-Israel. Rusia tegaskan dukungan atas kedaulatan Teheran.
Editor:
Glery Lazuardi
Israel mengubah taktik. Serangan rudal jarak jauh mereka dari wilayah udara Irak berkurang. Sebaliknya, Mossad dan aset internalnya melancarkan serangan pesawat nirawak FPV, bom mobil, dan serangan rudal antitank.
Lima bom mobil meledak di Teheran pada tanggal 15 Juni saja. Lokasi sipil – rumah sakit, asrama, dan bangunan tempat tinggal – terkena serangan. Ini bukanlah operasi militer.
Ini adalah tindakan teror dan sabotase. Namun, media arus utama barat menggemakan narasi Tel Aviv.
Jaringan media Inggris BBC dan yang lainnya menggambarkan insiden ini sebagai "serangan", yang menyiratkan presisi udara, bukan bom mobil.
Pengaburan bahasa yang disengaja ini merendahkan martabat orang Iran sekaligus mensterilkan agresi Israel.
Namun, hal ini telah menggembleng orang Iran dan menyatukan mereka.
Seperti invasi mendiang Presiden Irak Saddam Hussein ke Iran tahun 1980, Tel Aviv salah mengartikan kontradiksi internal Iran sebagai tanda-tanda keruntuhan.
Namun sejak 13 Juni dan seterusnya, warga Iran dari seluruh spektrum politik – termasuk para pembangkang lama – telah bersatu di belakang negara tersebut.
“Tokoh oposisi mana yang telah berbicara dan menulis sebanyak saya menentang rezim ini? Tetapi bagaimana saya bisa bergabung dengan musuh dalam situasi ini?” tanya analis politik Iran, Sadegh Zibakalam.
"Terlepas dari semua kritik saya terhadap pemerintah, saya sepenuhnya mendukung panglima tertinggi Angkatan Pertahanan Iran dalam mempertahankan tanah air,” kata mantan tahanan politik Iran, Ali Gholizadeh.
Bahkan suara-suara reformis, yang pernah kritis terhadap kebijakan nuklir Iran, sekarang malah menuntut sebuah bom.
Jurnalis dan editor Ali Nazary mengatakan, “Iran harus memperoleh bom nuklir sesegera mungkin. Melakukan uji coba nuklir adalah pencegah terbesar.”
Di media sosial Iran, gambar warga sipil yang tewas dalam serangan Israel telah menjadi viral.
Hingga 15 Juni, 224 warga Iran – 90 persen warga sipil – dilaporkan tewas, dengan lebih dari 1.200 orang terluka.
Ini adalah narasi penting dalam historis kultural dan psikologi politik Iran. Kematian bagi mereka harus diglorifikasi sebagai kemartiran atau pengorbanan dan sekaligus kekuatan.
Berbeda dengan Israel, yang harus menutupi segala kerusakan dan kematian akibat serangan Iran, karena itu berarti kelemahan.
Klaim Israel yang menghancurkan 120 peluncur rudal dan 200 unit sistem penangkis serangan uara Iran, harus menghadapi realitas sebaliknya.
Penembakan rudal secara masif oleh Iran setelah gempuran besar Israel, memperlihatkan klaim Tel Aviv itu hanya ilusi.
Bahkan terjangan rudal-rudal hipersonik Iran gagal dilumpuhkan system Kubah Besi atau Iron Dome, sistem rudal Arrow, maupun THAAD milik Amerika Serikat.
Rudal Iran semakin menyerang benar-benar dengan sedikit intersepsi. Mitos pertahanan Israel yang mahakuasa mulai terbongkar.
Bahkan Iran dianggap menggunakan taktik menguras rudal pencegat Israel, dengan stok berbagai jenis rudal pamungkas yang mereka miliki yang belum ditembakkan.
Efek serangan Iran ke Israel telah membuat guncangan besar bagi penduduk negara itu. Mereka ketakutan.
Kehancuran fisik yang ditimbulkan menyajikan pemandangan yang selama ini hanya bisa disaksikan terjadi di Jalur Gaza atau Dahiiyeh di Beirut.
Perang psikologis, yang dilancarkan Iran bersamaan operasi pembalasan mereka, mendapatkan momentum. Iran memenangi pertempuran di sektor ini.
Di sisi lain, persekusi barat ini membuat Teheran mempertimbangkan keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
Konsekuensinya akan sangat serius, karena berarti Iran akan keluar dari rezim multilateralisme, dan Teheran tidak akan terpantau lagi.
“Operasi Rising Lion” yang dimaksudkan untuk memenggal kepala Republik Islam Iran, menghancurkan program nuklirnya, dan menghancurkan moralnya, berbaik arah.
Kepemimpinan Iran telah mengeras. Rakyatnya menantang. Musuh-musuhnya berebut untuk mengendalikan cerita.
Ini bukan sekadar perang rudal. Ini adalah perang narasi, kedaulatan, dan memori sejarah. Poros Perlawanan memahami hal ini, tetapi Tel Aviv, tampaknya, tidak.
Begitu juga Presiden Donald Trump di Washington, gagal mengubah situasi.
Ia menceburkan dirinya ke dalam got kemunafikan, merusak janji, klaim, dan sumpahnya sendiri hadir sebagai juru damai dunia.
Watak politik Amerika Serikat yang hegemonik, membuat mereka mengabaikan kedaulatan negara lain, meremehkan tatanan dan hukum internasional.
Pada akhirnya, kepemimpinan global model ini akan membahayakan siapapun dan negara berdaulat manapun.(Setya Krisna Sumarga/TRIBUNYOGYA)