Agresi Israel-Amerika ke Iran dan Ilusi Pergantian Rezim Teheran
Putin sambut Menlu Iran di Moskow, perkuat aliansi usai serangan AS-Israel. Rusia tegaskan dukungan atas kedaulatan Teheran.
Editor:
Glery Lazuardi
Ini menandakan pengalihan inisiatif dari para veteran IRGC yang berhati-hati, banyak yang masih trauma perang 1980–1988 dengan Irak, ke generasi yang lebih agresif.
Generasi kepemimpinan ini berani menyerang Israel secara langsung.
Baca juga: Drone Hermes 900 Israel Kembali Ditembak Jatuh Iran
Serangan balasan Iran pada tanggal 13, 14, dan 15 Juni – bagian Operasi True Promise III– menunjukkan kapabilitas itu.
Iran menyerang secara kejam Tel Aviv, Haifa, dan tiga pangkalan militer Israel, satu di antaranya Nevatim Air Base, pangkalan skuadron jet tempru F-35 Adir.
Pengamat daring mengagumi seberapa cepat militer Iran beralih ke posisi siap perang meskipun ada ekskusi massal para perwira tinggi berkedudukan strategis.
Sulit dibayangkan ada negara lain mampu, ketika ada begitu banyak komandan senior yang tewas, lalu Iran ternyata mampu secara cepat menyerang balik.
Israel memang berada di posisi lebih menguntungkan lewat supremasi udara mereka di Timur Tengah.
Di bawah perlindungan Amerika, jet-jet tempur Israel melintasi langit Lebanon, Suriah, Yordania, Irak, bahkan Arab Saudi sebelum mencapai Iran.
Laporan awal mengklaim dominasi Israel atas wilayah udara Iran, sebagian besar berdasarkan rekaman jet Israel yang menghindari respons dan menyerang target umpan.
Namun setelah "diam" selama 12 jam, sistem pertahanan udara (AD) Iran kembali terlibat dengan kekuatan penuh.
Penundaan tersebut ditafsirkan sebagai efek perang siber atau strategi "rope-a-dope" yang disengaja.
Berpura-pura lemah, menarik musuh, membuatnya terlalu percaya diri, melakukan serangan balik.
Media Israel menggembar-gemborkan "superioritas udara," tetapi sebagian besar serangan yang dikonfirmasi menargetkan umpan atau target tiruan.
Seperti yang dijelaskan oleh analis militer Mike Mihajlovic, lebih dari tiga perempat video yang beredar sebenarnya mengenai umpan.
Ilusi dominasi yang disiarkan Tel Aviv mulai retak. Perang melalui teror karena tidak mampu mempertahankan serangan udara berskala besar,