Volltexte
Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Deutsche Welle

Seberapa Lama AS Bisa Berperang di Iran? Ini Hitungannya

Trump mengatakan AS memiliki persediaan senjata “hampir tak terbatas”. Menteri pertahanannya menyebut Iran tak punya harapan bertahan.…

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Seberapa Lama AS Bisa Berperang di Iran? Ini Hitungannya
Deutsche Welle
Seberapa Lama AS Bisa Berperang di Iran? Ini Hitungannya 

Pada 28 Februari, Amerika Serikat meluncurkan “Operation Epic Fury” di Iran. Dalam sepekan setelahnya, AS melakukan ribuan serangan di seluruh wilayah Iran dengan mengerahkan lebih dari 20 sistem persenjataan dari udara, darat, dan laut.

Dalam gelombang pertama serangan gabungan AS–Israel, pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan tewas. Presiden AS Donald Trump mengatakan konflik tersebut bisa berlangsung empat hingga lima minggu, tetapi AS memiliki “kemampuan untuk bertahan jauh lebih lama dari itu.”

Seberapa percaya diri pemerintahan Trump?

Pemerintahan Trump menunjukkan keyakinan tinggi terhadap kapasitas militer AS.

“Kami tidak kekurangan amunisi,” kata Menteri Pertahanan Pete Hegseth saat mengunjungi Komando Pusat AS (CENTCOM) di Florida. “Persediaan senjata defensif dan ofensif kami memungkinkan kampanye ini berlanjut selama yang kami perlukan.”

Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine juga memberikan jaminan serupa. “Kami memiliki amunisi presisi yang cukup untuk tugas ini, baik untuk serangan maupun pertahanan.”

Namun, Trump secara tidak langsung mengakui adanya potensi masalah. Dalam unggahan di platform media sosialnya Truth Social, ia menulis bahwa persediaan amunisi AS pada tingkat menengah dan menengah-atas “tidak pernah lebih tinggi atau lebih baik.” Namun untuk senjata dengan spesifikasi tertinggi, ia mengatakan persediaannya “cukup baik tetapi belum berada pada tingkat yang diinginkan.”

Kelly Grieco, peneliti senior di lembaga pemikir Stimson Center, menilai perbedaan tingkat kualitas senjata tersebut memang penting. Menurutnya, kekhawatiran terbesar ada pada senjata kelas tertinggi seperti misil jarak jauh dan sistem pencegat.

Rekomendasi Untuk Anda

“Ada keterbatasan nyata pada stok senjata di kategori itu,” katanya.

Perhitungan matematis perang

Sejak awal konflik, AS, Israel, dan Iran saling meluncurkan serangan besar di kawasan tersebut. Menurut CENTCOM, AS menyerang lebih dari 3.000 target di Iran dalam tujuh hari pertama.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan ribuan drone Shahed-136 dan ratusan misil ke target AS di kawasan.

Di sinilah perhitungan biaya menjadi tidak nyaman.

Drone Shahed Iran diperkirakan berbiaya produksi antara $20.000 hingga $50.000 (sekitar Rp337 juta – Rp843 juta). Namun metode pencegatan oleh AS jauh lebih mahal.

Pesawat tempur yang menembakkan misil AIM-9 membutuhkan sekitar $450.000 per tembakan (sekitar Rp7,6 miliar), belum termasuk biaya operasional pesawat sekitar $40.000 (sekitar Rp675 juta) per jam.

“Biaya mengoperasikan pesawat tempur selama satu jam setara dengan harga satu drone Shahed,” kata Grieco. “Itu tidak efisien. Ini perbandingan biaya yang tidak menguntungkan.”

Ia berpendapat AS seharusnya belajar dari pengalaman Ukraina, yang menggunakan metode lebih murah seperti drone pencegat yang bahkan lebih murah dari Shahed.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas