Dari Myanmar hingga Venezuela, orang-orang mencari cara mengakali pemblokiran internet
Kafe-kafe rahasia dan para pengembang dari kelompok perlawanan membantu mengatasi pemadaman dan pembatasan yang digunakan oleh pemerintah…
"Anda tidak perlu masuk (log in), tidak perlu membuat akun, tidak perlu membayar apa pun... Anda hanya tinggal membaca berita," jelasnya.
Aplikasi yang dirilis tepat sebelum pemilu presiden yang penuh sengketa pada Juli 2024 ini telah diunduh sebanyak 140.000 kali. Namun, perjuangan ini harus dibayar mahal.
Sebagai aktivis hak digital yang vokal menentang sensor, Azpurúa terpaksa melarikan diri dari Venezuela pada akhir tahun tersebut karena dibayangi ancaman penjara.
"Semua tanda-tanda menunjukkan bahwa mereka sedang melacak keberadaan saya dan berusaha menangkap saya," kenangnya.
Ketika mantan presiden Nicolás Maduro ditangkap oleh pihak Amerika Serikat pada awal tahun ini, banyak warga Venezuela bersukacita karena mengira perubahan politik akan segera tiba.
Namun, di bawah kepemimpinan suksesornya, Delcy Rodríguez, Azpurúa menilai situasi belum membaik; sensor terhadap media dan internet hampir tidak ada perubahan.
Hingga kini, aplikasi berita tersebut terus dikembangkan berkat kerja keras para sukarelawan dan pendanaan yang sebagian besar bersumber dari donasi. Bagi Azpurúa, proyek ini lebih dari sekadar teknologi.
"Ini adalah cara kami untuk mendukung penegakan hak asasi manusia, termasuk hak atas akses informasi dan kebebasan berekspresi," katanya.
'Tembok Api Besar' China
Sementara itu, di belahan bumi lain, seorang ekspatriat bernama samaran Echo menjadi bagian dari barisan pengembang yang sedang menantang sistem sensor internet raksasa lainnya: The Great Firewall of China atau 'Tembok Api Besar China'.
Di China, akses ke berbagai situs berita internasional, media sosial, mesin pencari, hingga platform streaming diblokir total. Sebagai gantinya, warga diarahkan untuk menggunakan aplikasi yang dikontrol dan diawasi ketat oleh negara, seperti WeChat dan Weibo.
Echo—seorang mantan pekerja IT yang telah meninggalkan China sejak tiga tahun lalu—mendirikan sebuah layanan berbasis perangkat lunak pihak ketiga.
Melalui sistem ini, ia membantu masyarakat di China menembus blokade digital untuk mengakses situs-situs terlarang seperti Google, YouTube, dan Facebook.
Dalam menjalankan operasinya, Echo bekerja sama dengan seorang mitra bisnis di dalam Tiongkok secara sangat hati-hati demi menghindari radar aparat.
"Di Tiongkok, jika Anda ketahuan membantu orang lain mengakses internet secara bebas... Anda pasti akan ditangkap," tegasnya.