Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
BBC

Dari Myanmar hingga Venezuela, orang-orang mencari cara mengakali pemblokiran internet

Kafe-kafe rahasia dan para pengembang dari kelompok perlawanan membantu mengatasi pemadaman dan pembatasan yang digunakan oleh pemerintah…

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Dari Myanmar hingga Venezuela, orang-orang mencari cara mengakali pemblokiran internet
BBC Indonesia
Dari Myanmar hingga Venezuela, orang-orang mencari cara mengakali pemblokiran internet 

Echo sendiri mengaku saat ini bertahan hidup dengan mengandalkan uang tabungannya. Dia melihat upayanya ini sebagai medan laga yang dinamis melawan sensor ketat China.

"Ada kalanya pengembang seperti kami berada di atas angin, tapi ada kalanya juga kami tersudut," katanya.

Tak hanya membantu warga di tanah airnya, Echo kini juga memperluas paket langganan gratis ini untuk pengguna di Iran. Negara tersebut memang tengah dilanda pemadaman internet massal menyusul gelombang protes pada Januari lalu, ditambah lagi dengan kondisi perang yang tengah berkecamuk saat ini melawan Amerika Serikat dan Israel.

Terkait situasi tersebut, organisasi hak asasi manusia yang berbasis di Inggris, Article 19, memaparkan laporan terperinci mengenai bagaimana Iran meniru berbagai teknologi dan taktik siber dari China demi mencengkeram kendali atas ruang digital mereka.

Ketika dimintai konfirmasi oleh BBC terkait pembatasan internet ini, pemerintah Myanmar, Venezuela, dan China memilih bungkam dan tidak merespons pertanyaan yang diajukan.

Meski begitu, dalam berbagai kesempatan sebelumnya, rezim-rezim ini kerap berlindung di balik alasan keamanan dan stabilitas negara.

Sebagai contoh, pihak junta Myanmar pada tahun 2021 menyatakan bahwa pemblokiran Facebook dilakukan demi meredam penyebaran "berita bohong dan disinformasi".

Rekomendasi Untuk Anda

Sementara itu, saat masih memegang tampuk kekuasaan, Maduro menuduh sejumlah platform media sosial telah digunakan sebagai alat untuk menyebarkan "kebencian".

Di sisi lain, Presiden China Xi Jinping juga pernah menegaskan bahwa "kekacauan" di jagat maya hanya akan "merugikan kepentingan publik".

Namun bagi warga di akar rumput, seperti para pelanggan yang mendatangi kios internet milik Min di Myanmar, dampak dari pemadaman digital ini terasa sangat menyiksa.

"Hampir seluruh sendi kehidupan kami lumpuh—mulai dari aktivitas sehari-hari, roda ekonomi lokal, pendidikan, hingga komunikasi antaranggota keluarga," keluh Khin (bukan nama sebenarnya), seorang perempuan berusia 27 tahun yang tinggal di wilayah tengah Myanmar.

Khin menceritakan bahwa saat pemadaman internet pertama kali terjadi, ia sama sekali kehilangan cara untuk menghubungi keluarganya yang tinggal jauh di pelosok, di mana jaringan telepon pun tidak bisa diandalkan.

"Komunikasi kami putus total," kenangnya.

Bahkan untuk bisa mendapatkan secercah sinyal internet, ia terkadang harus rela berjalan kaki selama satu jam.

Penderitaan serupa dirasakan oleh Nay (25), seorang mahasiswi yang namanya juga telah disamarkan. Demi bisa mengakses internet di kafe Starlink, ia harus rutin menempuh perjalanan sejauh lebih dari 2 kilometer.

"Kami, para pemuda... memikul tanggung jawab untuk membangun daerah kami. Tapi sekarang, dengan adanya pemutusan internet ini, kami tidak bisa berbuat apa-apa," tutur Nay lirih.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 4/4
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas