Siapa 'Nepo Kids' dan Mengapa Mereka Jadi Pemicu Kemarahan Masyarakat di Nepal?
Sebelum demo besar-besaran mengguncang negara Nepal, beredar foto di media sosial yang menunjukkan gaya hidup anak pejabat di Nepal.
Penulis:
Malvyandie Haryadi
- Demo berujung kericuhan di Nepal dipicu protes terhadap pemblokiran 26 platform media sosial yang dianggap membungkam kebebasan berekspresi.
- Di media sosial Nepal, istilah "Nepo kids" menjadi trending dan disebut ikut memicu kemarahan warga. Nepo Kids merujuk kepada anak-anak dari elit politik Nepal yang mendapat keuntungan dari koneksi keluarga mereka.
- Istilah ini merupakan singkatan dari nepotisme, mirip dengan konsep "nepo babies" yang populer di Barat untuk anak-anak figur publik.
- Bentrokan dengan aparat menewaskan 19 orang dan melukai lebih dari 100 pihak, termasuk aparat, menandai kerusuhan paling berdarah di Nepal dalam beberapa dekade.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Siapa ‘nepo kids’ dan mengapa mereka memicu kemarahan generasi muda Nepal?
Sebelum demo besar-besaran mengguncang negara Nepal, Selasa (9/9/2025) waktu setempat, beredar foto di media sosial yang menunjukkan gaya hidup mewah anak-anak dari elit politik negara tersebut.
Foto-foto ini diberi tagar #nepokids, yang merujuk pada anak muda yang mendapatkan keuntungan dari koneksi keluarga mereka.
"Nepo kids" di Nepal, yang menggunakan versi singkatan dari nepotisme, serupa dengan konsep populer di Barat.
Di sana, istilah "nepo kids" dan "nepo babies" digunakan untuk merujuk pada anak-anak istimewa dari selebritas dan tokoh masyarakat lainnya.
Perilaku anak-anak pejabat ini membuat geram masyarakat di negeri yang sebagian besar warganya hidup dalam kemiskinan, memperlihatkan kesenjangan sosial yang dalam.
Banyak warga Nepal mengutuk mereka karena dianggap tidak peka di negara di mana seperempat penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan nasional.
Para pejabat dan politisi Nepal dituding berpraktik koruptif, kurangnya transparansi dalam penggunaan dana publik, dan dugaan memakai anggaran negara untuk gaya hidup mewah keluarga mereka. Padahal, gaji resmi mereka terbilang rendah.
Sebagai bagian dari tren media sosial #nepokids di Nepal, netizen Nepal mengunggah video dan unggahan ke TikTok dan X yang memperlihatkan anak para tokoh politik Nepal sedang berlibur mewah dan mengenakan pakaian mahal.
Masih dalam postingan tersebut, gambar kemewahan para nepo kids, disandingkan dengan adegan perjuangan sehari-hari warga Nepal biasa.
Di antara gambar yang paling sering dibagikan adalah foto yang diklaim menunjukkan putra seorang menteri berpose dengan kotak-kotak berlabel Louis Vuitton dan Cartier yang disusun menjadi pohon Natal.
Video lain menggabungkan foto-foto yang diklaim sebagai putra seorang mantan hakim sedang makan di restoran mewah dan berpose di samping mobil Mercedes.
"Ribuan video semacam itu menjadi tren di seluruh ekosistem digital Nepal," kata Raqib Naik, direktur eksekutif dari Center for the Study of Organized Hate, sebuah kelompok pengawas yang berbasis di Washington yang melacak ekstremisme dan misinformasi daring di Asia Selatan dan komunitas diasporanya.
Kontras "antara hak istimewa elit dan kesulitan sehari-hari menyentuh hati para Gen Z dan dengan cepat menjadi narasi sentral yang mendorong gerakan ini," katanya.
Baca tanpa iklan