Khalil Al-Hayya, Bos Hamas Muncul Perdana setelah Gagal Dibunuh Israel
Khalil Al-Hayya, senior Hamas dan kepala negosiasi sebelumnya, muncul perdana di publik setelah Israel gagal membunuhnya dalam serangan di Qatar.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Facundo Chrysnha Pradipha
Sebagai politisi dan diplomat, Al-Hayya dikenal memainkan peran penting dalam perundingan gencatan senjata dan pertukaran tahanan antara Hamas dan Israel.
Ia kerap mewakili Hamas dalam dialog dengan mediator internasional, termasuk Qatar, Mesir, dan PBB.
Setelah tewasnya Yahya Sinwar pada Oktober 2024, Khalil Al-Hayya menjadi bagian dari kepemimpinan kolektif Hamas yang mengatur arah gerakan perlawanan dari luar Gaza.
Namun, perjuangan panjangnya tidak lepas dari pengorbanan. Dalam perang Gaza tahun 2014, rumah putranya Osama dihantam rudal Israel, menewaskan istri dan anak-anaknya, lapor Al Jazeera.
Tragedi itu tidak mematahkan semangatnya, justru memperkuat tekadnya untuk melanjutkan perjuangan.
Pada 9 September 2025, Israel kembali menargetkan dirinya dalam serangan udara di Qatar.
Ia dilaporkan selamat, meski putranya, Himam, gugur dalam serangan tersebut.
Kini, Khalil Al-Hayya menjadi simbol keteguhan dan kontinuitas perjuangan Hamas di tengah tekanan global.
Sosoknya yang religius, berwawasan luas, dan tenang dalam diplomasi menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam peta politik Palestina modern.
Update Serangan Israel di Jalur Gaza
Pada hari ini, Al Jazeera melaporkan setidaknya 11 orang, termasuk pencari bantuan, tewas akibat serangan Israel di Gaza sejak fajar.
Israel terus melakukan serangan di Jalur Gaza sejak Oktober 2023, menewaskan lebih dari 67.074 warga Palestina dan melukai sekitar 169.430 orang, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza pada Sabtu.
Bencana kemanusiaan di Jalur Gaza semakin parah, dengan 453 orang meninggal akibat kelaparan, termasuk 147 anak-anak.
Sejak 27 Mei 2025, serangan Israel terhadap warga Palestina yang tengah mencari bantuan telah menewaskan 2.603 orang dan melukai lebih dari 19.094 lainnya, dikutip dari WAFA.
Israel menyalahkan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) atas kehancuran di Gaza setelah Hamas meluncurkan Operasi Banjir Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023, di mana ratusan warga Israel tewas dan sekitar 250 orang ditahan oleh Hamas.
Per 3 September 2025, diperkirakan masih ada 48 warga Israel dan warga asing yang ditawan di Gaza, termasuk sandera yang telah dipastikan tewas namun jenazahnya masih ditahan, menurut laporan OCHA.
Baca tanpa iklan