Donald Trump Segera Gelar Pertemuan dengan Xi Jinping, Perang Tarif Jadi Fokus Utama
Menkeu AS Scott Bessent mengungkapkan bahwa kedua belah negara, AS dan Tiongkok, menjalani komunikasi intensif selama sepekan terakhir.
Penulis:
Bobby W
Editor:
Suci BangunDS
Ringkasan Berita:
- Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada akhir Oktober di Korea Selatan
- Ketegangan kedua negara kembali memanas setelah Tiongkok keluarkan regulasi yang memperketat kontrol ekspor bahan tanah jarang
- Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan negosiasi menjadi jalan utama meredakan konflik dagang
TRIBUNNEWS.COM - Setelah masalah Palestina dan Israel bisa dibilang mulai mereda, kini fokus pemerintahan Amerika Serikat (AS) sepertinya mulai tertuju pada perang tarif yang terjadi di antara negara mereka dengan Tiongkok.
Spekulasi tersebut, muncul setelah Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa Presiden AS Donald Trump akan segera menemui pemimpin negeri tirai bambu, Xi Jinping.
Dikutip dari Reuters, Bessent mengakui agenda pertemuan di Korea Selatan pada akhir Oktober akan menjadi fokus utama saat ini.
Melalui pernyataan yang disampaikan pada Senin waktu setempat (13/10/2025), Bessent mengatakan, langkah ini perlu disegerakan guna meredakan ketegangan terkait ancaman tarif dan kontrol ekspor antar kedua negara.
Adapun pemicu terbaru ketegangan antara kedua negara adalah pengumuman terbaru dari Tiongkok pada Kamis lalu (9/10/2025).
Kala itu, Tiongkok menyatakan, akan memperluas secara signifikan kontrol ekspor terhadap bahan tanah jarang.
Melalui kebijakan atau regulasi baru Tiongkok ini, perusahaan asing yang memproduksi sejumlah olahan elemen tanah jarang dan magnet terkait kini diwajibkan mengurus izin ekspor.
Parahnya lagi, jika produk akhirnya mengandung atau dibuat menggunakan peralatan atau material Tiongkok, perizinan tetap harus dibuat meskipun transaksi tersebut tidak melibatkan perusahaan Tiongkok sama sekali.
Dalam wawancara di program "Mornings with Maria", Bessent menegaskan, AS akan menolak persyaratan perizinan semacam itu dari Tiongkok.
Langkah tersebut, juga memicu respons tajam dari Trump pada Jumat (10/10/2025) yang mengakibatkan ketidakstabilan pasar serta memanasnya hubungan kedua ekonomi terbesar dunia.
Setelah eskalasi perang tarif kembali naik, Bessent mengungkapkan, kedua belah negara kemudian menjalani komunikasi intensif selama sepekan terakhir.
Baca juga: Indonesia Berpotensi Besar Gaet Investasi dari Perusahaan Energi Tiongkok
"Kami telah berhasil meredakan ketegangan secara signifikan," ujarnya dalam wawancara dengan Fox Business Network pada Senin.
Bessent juga menyebutkan ancaman tarif yang diungkapkan Trump merupakan opsi terakhir yang ingin ia hindari.
"Tarif 100 persen tidak harus diberlakukan," tegasnya.
Bessent kembali mempertegas bahwa negosiasi adalah jalan terbaik untuk memutus kebuntuan antara AS dan Tiongkok.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.