5 Populer Internasional: 'Jebakan' Mic Bocor ala Amerika - Israel Curangi Gencatan Senjata
Rangkuman berita internasional terpopuler, salah satu isu yang menarik perhatian publik yakni adanya konspirasi jebakan mic bocor ala Amerika.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Sri Juliati
"SEMUA DUA PULUH SANDERA KEMBALI dan merasa sebaik yang diharapkan. Beban besar telah terangkat, tetapi tugas BELUM SELESAI. YANG MENINGGAL BELUM DIKEMBALIKAN, SEPERTI YANG DIJANJIKAN!" tulis Trump di akun Truth Social-nya.
Meskipun batas waktu pengembalian jasad sandera telah terlewati, perjanjian gencatan senjata memberikan kelonggaran waktu bagi Hamas untuk menemukan jasad sandera yang tersisa.
3. Araghchi: Trump Tidak Bisa Disebut Presiden Perdamaian Jika Terus Memprovokasi Perang
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengecam Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas kebijakan yang dinilainya memprovokasi perang di kawasan Asia Barat.
Menurut Araghchi, Trump tidak dapat mengklaim dirinya sebagai pembawa perdamaian di kawasan tersebut, sementara pada saat yang sama menjalankan kebijakan agresif dan bersekutu dengan pihak-pihak yang disebutnya sebagai penjahat perang.
Mengutip PressTV, dalam unggahan di platform X pada Selasa (14/10/2025), Araghchi menyebut klaim Trump bahwa Iran hampir mengembangkan senjata nuklir sebelum agresi AS-Israel terhadap fasilitas nuklirnya, sebagai kebohongan besar.
Ia menuduh kelompok berkepentingan pro-Israel telah memberi informasi palsu kepada Amerika Serikat.
“Sudah sangat jelas bahwa Presiden AS telah disesatkan dengan informasi palsu, seolah-olah program nuklir damai Iran berada di ambang persenjataan musim semi ini,” kata Araghchi.
“Itu hanyalah KEBOHONGAN BESAR, dan seharusnya dia sudah diberitahu bahwa tidak ada bukti sama sekali, sebagaimana dikonfirmasi oleh komunitas intelijennya sendiri.”
Araghchi juga mengecam keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam serangan udara terhadap kota-kota Iran pada awal tahun ini, yang menewaskan lebih dari 1.000 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
“Bagaimana mungkin bangsa Iran dapat diminta mempercayai tawaran perdamaian yang datang dari tangan yang sama yang membombardir rumah dan kantor di seluruh Iran hanya empat bulan lalu?” katanya.
Baca juga: Ali Khamenei Dilaporkan Cabut Aturan Pembatasan Jangkauan Misil, Iran Kembangkan Rudal Antarbenua?
Ia menegaskan bahwa seseorang tidak dapat disebut Presiden Perdamaian jika pada saat yang sama memprovokasi perang tanpa akhir dan bersekutu dengan para penjahat perang.
Menurut Araghchi, Trump hanya bisa menjadi Presiden Perdamaian atau Presiden Perang, dan tidak mungkin menjadi keduanya sekaligus.
Menteri luar negeri Iran itu juga menyinggung citra Trump sebagai pembawa damai, serta pernyataannya yang berjanji akan menciptakan perdamaian abadi di kawasan Timur Tengah bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Baca tanpa iklan