Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

AS dan Rusia Diam-diam Susun Proposal Baru, Minta Ukraina Menyerah

Sebuah laporan menyebutkan AS dan Rusia diam-diam menyusun proposal perdamaian baru untuk akhiri perang di Ukraina, termasuk minta Kyiv menyerah.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Nuryanti
zoom-in AS dan Rusia Diam-diam Susun Proposal Baru, Minta Ukraina Menyerah
Foto: Sergei Bobylev, RIA Novosti/Kremlin
PUTIN KE ALASKA - Foto diunduh dari website Kremlin, Jumat (12/9/2025) memperlihatkan Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) bertemu dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump (kanan) di Alaska pada Jumat, 15 Agustus 2025. -- Pada 19 November 2025, AS dan Rusia dikabarkan menyusun proposal perdamaian baru untuk mengakhiri perang di Ukraina. 

Rusia mengklaim operasi tersebut bertujuan membasmi ekstremisme di Kyiv, melindungi warga etnis Rusia di Donbas, serta mencegah Ukraina masuk ke dalam aliansi NATO. 

Kyiv merespons dengan mendapatkan dukungan signifikan berupa persenjataan dan bantuan militer dari Amerika Serikat dan negara-negara anggota NATO.

Hingga kini, perang antara kedua negara bertetangga itu masih berlangsung dengan perkembangan terbaru sebagai berikut.

  • Serangan Rusia Hujani Ternopil, 26 Orang Tewas

Serangan Rusia di Ternopil menewaskan 26 orang termasuk tiga anak-anak.

Selain itu, 93 orang lainnya terluka termasuk 18 anak-anak. 

"Pekerjaan tidak akan berhenti di malam hari: seluruh unit akan terus membersihkan puing-puing dan memberikan bantuan kepada para korban. Petugas kepolisian akan memantau pemeliharaan ketertiban umum dan mencegah penjarahan," demikian bunyi laporan Layanan Darurat Ukraina, Rabu (19/11/2025).

Sementara itu di wilayah Sumy, pertahanan udara Ukraina menembak 61 pesawat nirawak Rusia.

  • Ukraina Ingin Lanjutkan Pertukaran Tahanan 

Rekomendasi Untuk Anda

Presiden Volodymyr Zelenskyy menyatakan harapan bahwa pada akhir tahun 2025, Ukraina akan dapat melanjutkan pertukaran tahanan dengan pihak Rusia.

Ia optimis dapat melakukan hal tersebut setelah bertemu Presiden Turki Erdogan, mitra penting dalam negosiasi dengan Rusia.

"Kami berusaha keras untuk melanjutkan pertukaran. Pertukaran tahanan untuk memulangkan warga sipil dan militer Ukraina yang ditahan Rusia. Termasuk tahanan politik dan agama Tatar Krimea. Tentu saja, kami sedang berupaya untuk memulangkan anak-anak Ukraina kami. Kami memiliki platform untuk ini," katanya dalam konferensi pers dengan Presiden Turki Erdogan, Rabu.

Presiden Ukraina menegaskan proses negosiasi harus dilanjutkan. 

"Sekarang banyak proses telah diaktifkan. Kami berusaha memastikan bahwa semua kegiatan ditujukan khusus untuk perdamaian, keamanan yang terjamin. Perang harus diakhiri. Tidak ada alternatif selain perdamaian. Rusia harus menyadari bahwa tidak boleh ada imbalan untuk perang, untuk pembunuhan," jelasnya.

Tahun ini, kedua negara yang berperang itu telah melakukan tiga kali pertukaran tahanan, membebaskan lebih dari 5.000 orang Ukraina dan 1.200 orang Rusia.

Pertukaran itu terjadi setelah kedua pihak menyepakati perjanjian pertukaran yang ditengahi Turki dan Amerika Serikat, lapor Suspilne.

  • Ukraina Pecat 2 Menteri terkait Korupsi

Parlemen Ukraina, Verkhovna Rada Ukraina, mengonfirmasi pemecatan Svitlana Hrynchuk dari jabatan Menteri Energi pada Rabu kemarin.

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas