Bantah Jerman, Rusia Sebut Tak Minat Bangkitkan Uni Soviet
Kremlin membantah tuduhan Jerman, mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin tidak berminat untuk membangkitkan Uni Soviet.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
Setelah serangan tersebut, Ukraina berupaya melakukan perlawanan hingga perang pecah, memperpanjang konflik kedua negara bertetangga itu sejak bubarnya Uni Soviet pada tahun 1991.
Ukraina berada di persimpangan geopolitik setelah merdeka dari Uni Soviet, dilema untuk mempertahankan kedekatan dengan Rusia atau mempererat hubungan dengan negara-negara Barat.
Sejak tahun 2002, negara tersebut mulai menunjukkan minatnya untuk bergabung dengan aliansi pertahanan NATO dan disusul dengan keinginannnya menjadi anggota Uni Eropa.
Sementara itu, Rusia merasa terancam dengan kedekatan Ukraina dengan negara-negara Barat, serta perbedaan orientasi politik, klaim wilayah, dan upaya memperkuat identitas nasional membuat hubungannya dengan Ukraina semakin rapuh.
Ketegangan kedua negara memuncak saat Revolusi Maidan pada tahun 2014, di mana gelombang protes besar terjadi di Ukraina dan berhasil menggulingkan presidennya yang dianggap terlalu pro-Rusia, seperti dijelaskan Al Jazeera.
Di tengah ketegangan itu, Rusia merebut Krimea dan mendukung kelompok separatis di Donbas, sehingga memicu konflik berkepanjangan di timur Ukraina.
Setelah upaya negosiasi yang panjang dan berulang kali gagal meredakan ketegangan, Rusia meluncurkan invasi pada tahun 2022 dengan alasan melindungi warga keturunan Rusia dan mencegah Ukraina semakin mendekat ke NATO.
Negara-negara Barat mengecam invasi Rusia terhadap Ukraina, hingga mereka menunjukkan dukungan yang kuat terhadap Kyiv baik secara militer mau pun politik.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan