Libya Berduka: Panglima Militer dan Rombongan Tewas dalam Kecelakaan Pesawat Sepulang dari Turki
Sebuah jet pribadi yang membawa Panglima Militer Libya, Jenderal Mohammed al-Haddad, bersama empat perwira dan tiga awak jatuh di Turki
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Bobby Wiratama
Menurut Traina, al-Haddad sangat dihormati, tidak hanya di Libya barat, tetapi juga di seluruh negeri.
Ia merupakan prajurit karier yang telah mengabdikan diri di militer selama beberapa dekade.
“Di Libya barat, situasinya sangat terpecah. Ada kelompok-kelompok bersenjata kuat yang mengendalikan wilayah luas dan memiliki pengaruh besar terhadap pemerintah. Namun, Mohammed al-Haddad menolak tunduk pada tekanan kelompok-kelompok bersenjata tersebut. Ia selalu berbicara tentang rekonsiliasi,” kata Traina.
“Ia berupaya menyatukan negara. Banyak orang mendukungnya dan menaruh harapan bahwa melalui Mohammed al-Haddad, kesepakatan dengan Libya timur dapat dicapai untuk menyatukan kembali negara yang terpecah ini.”
Tentang Libya
Libya merupakan negara di Afrika Utara yang berbatasan dengan Tunisia dan Mesir.
Mengutip Britannica, sebagian besar wilayah Libya berada di Gurun Sahara, dengan mayoritas penduduk terkonsentrasi di sepanjang pesisir dan daerah pedalaman terdekat, tempat Tripoli, ibu kota de facto, dan Benghazi, kota besar lainnya, berada.
Libya terjerumus ke dalam kekacauan sejak pemberontakan pada 2011 yang menggulingkan dan menewaskan diktator Moammar Gadhafi.
Sejak saat itu, negara tersebut terpecah dengan pemerintahan yang bersaing di wilayah timur dan barat, yang masing-masing didukung oleh berbagai milisi bersenjata serta negara asing.
Turki selama ini bersekutu dengan pemerintah Libya di wilayah barat, namun belakangan juga mengambil langkah untuk meningkatkan hubungan dengan pemerintah yang berbasis di wilayah timur.
Baca juga: HNW Minta Mesir dan Libya Buka Jalan Bagi Relawan Kemanusiaan Global untuk Gaza
Kunjungan delegasi Libya pada Selasa tersebut terjadi sehari setelah parlemen Turki menyetujui perpanjangan mandat pasukan Turki yang bertugas di Libya selama dua tahun.
Turki mengerahkan pasukannya ke Libya berdasarkan perjanjian kerja sama keamanan dan militer yang disepakati antara Ankara dan pemerintah berbasis di Tripoli pada 2019.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Baca tanpa iklan