Rusia Akan Bangun PLTN di Bulan, Sudah Teken Kontrak dengan Perusahaan Dirgantara
Roscosmos, Rosatom, dan Institut Kurchatov akan ikut serta dalam pembangunan pembangkit listrik bulan oleh Rusia.
Penulis:
Nuryanti
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
Dikutip dari laman interfax, tugas utama pembangkit listrik ini adalah memasok listrik jangka panjang kepada para pelaku program bulan Rusia dan infrastruktur stasiun penelitian bulan internasional, termasuk fasilitas mitra asing.
Roscosmos, Rosatom, dan Institut Kurchatov akan ikut serta dalam pembangunan pembangkit listrik bulan.
Roscosmos dan Badan Antariksa Nasional Tiongkok menandatangani nota kesepahaman tentang kerja sama dalam pembangunan pembangkit listrik bulan pada 8 Mei 2025.
Rusia dan China menandatangani memorandum antar pemerintah tentang kerja sama dalam pendirian stasiun penelitian bulan internasional pada Maret 2021 dan mempresentasikan peta jalan untuk membangun stasiun bulan bersama pada 16 Juni tahun yang sama.
Menurut perjanjian antar pemerintah yang telah dipublikasikan, Rusia dan China telah merencanakan lima misi bersama sebagai bagian dari proyek stasiun penelitian bulan internasional untuk menempatkan modul di orbit bulan dan di permukaan bulan.
Dilansir laman engelsbergideas, Rosatom, perusahaan milik negara Rusia yang khusus bergerak di bidang nuklir, adalah salah satu perusahaan terbesar di negara itu.
Dengan 370.000 karyawan yang tersebar di ratusan anak perusahaan di 31 kota, dan penjualan tahunan sebesar 30 miliar dolar AS, Rosatom merupakan salah satu organisasi paling berpengaruh di negara tersebut.
Baca juga: Sudah 2 Kali Putin Ajak Prabowo Bangun Teknologi Nuklir
Di bawah kendali pemerintah Rusia dan Presiden Vladimir Putin, Rosatom menjual bahan bakar nuklir dan reaktor di seluruh dunia serta berkontribusi pada produksi persenjataan nuklir negara tersebut.
Karena invasinya ke Ukraina, sektor keuangan, transportasi, pertahanan, dan energi Rusia telah dikenai sanksi berat oleh Uni Eropa, AS, dan Inggris.
Dalam salah satu tindakan terakhir pemerintahan Joe Biden, AS memberikan sanksi kepada para pejabat senior Rosatom, termasuk CEO-nya.
Inggris mengambil langkah serupa dua tahun lalu, tetapi kedua negara tersebut sejauh ini menghindari penerapan sanksi umum secara langsung kepada Rosatom sendiri.
Sebaliknya, sanksi ditargetkan pada anak perusahaannya.
Demikian pula, Rosatom belum muncul dalam paket sanksi Uni Eropa mana pun, meskipun beberapa sanksi mungkin akan diberlakukan tahun ini.
(Tribunnews.com/Nuryanti)
Baca tanpa iklan