Wisatawan Jepang Dikritik Wartawan Aki Shikama: Pelanggaran Etika di Luar Negeri Bikin Malu
Aki Shikama menegur perilaku memalukan wisatawan Jepang di luar negeri, dari pencurian di Bali hingga pelanggaran etika di bandara dan kereta
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Wartawan Jepang Aki Shikama mengkritik keras perilaku wisatawan Jepang di luar negeri setelah kasus pencurian massal pelajar Jepang di Bali pada Desember 2025.
- Ia menyoroti pelanggaran etika seperti memotret area terlarang, makan di transportasi umum, hingga membawa pulang makanan dari lounge bandara.
- Menurutnya, kelalaian kecil ini dapat merusak reputasi paspor Jepang yang dibangun puluhan tahun.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Seorang wartawan Jepang, Aki Shikama, mengkritik keras perilaku wisatawan Jepang di luar negeri setelah kasus pencurian massal oleh pelajar Jepang di Bali pada Desember 2025.
Ia menilai pelanggaran etika kecil, seperti memotret area terlarang dan makan di transportasi umum, kini menjadi ancaman serius bagi reputasi Jepang di mata dunia.
"Kasus pencurian massal oleh pelajar Jepang saat studi wisata di Bali pada Desember 2025 menjadi contoh terbaru betapa cepatnya reputasi suatu bangsa bisa tercoreng. Peristiwa tersebut menuai kecaman luas, baik di Indonesia maupun di negara lain," tulis Aki di media All About hari Sabtu (27/12/2025).
Pelanggaran etika oleh wisatawan Jepang saat bepergian ke luar negeri kian sering menjadi sorotan.
Mulai dari minum dan makan di dalam bus atau kereta, memotret di area terlarang, hingga membawa pulang makanan dari lounge bandara, perilaku-perilaku ini dinilai bukan sekadar memalukan, tetapi juga berpotensi melanggar hukum dan merusak citra Jepang di mata dunia.
Baca juga: Hotel di Bali Ini Kian Fokus Gaet Turis Jepang Mulai 2025
"Padahal, selama ini Jepang dikenal sebagai negara dengan budaya tertib dan beretika tinggi. Namun, menurut pengamatan jurnalis perjalanan yang banyak meliput wisata lintas negara, citra tersebut mulai tergerus akibat tindakan sebagian kecil wisatawan yang abai terhadap aturan dan kebiasaan setempat."
Larangan Memotret yang Sering Diabaikan
Salah satu pelanggaran yang paling sering terjadi adalah memotret di area yang dilarang, terutama di bandara dan fasilitas yang memiliki fungsi militer atau keamanan.
Di Korea Selatan, misalnya, sejumlah bandara seperti Gimhae (Busan), Gimpo (Seoul), Cheongju, dan Daegu menerapkan larangan ketat terhadap aktivitas fotografi. Bahkan, pengumuman larangan memotret disampaikan berulang kali, termasuk larangan memotret dari dalam pesawat.
Kondisi serupa juga berlaku di berbagai negara lain seperti China, Taiwan, kawasan Timur Tengah, India, hingga Afrika. Di beberapa tempat, mengarahkan kamera atau ponsel ke objek tertentu dapat memicu kecurigaan spionase dan berujung pada pemeriksaan hingga penahanan.
Selain bandara, stasiun kereta, jembatan, fasilitas pemerintah, dan instalasi militer juga sering masuk kategori area sensitif. Sementara di tempat ibadah, meski fotografi diizinkan, perilaku seperti berbicara keras atau menggunakan lampu kilat dianggap tidak sopan.
Minum dan Makan di Transportasi Umum: Denda Menanti
Kebiasaan yang lazim di Jepang—seperti minum teh botolan di kereta—ternyata tidak berlaku di banyak negara Asia.
Di Korea Selatan, makan dan minum di dalam kereta bawah tanah dan bus kota dilarang. Di Taiwan, aturannya bahkan lebih ketat: makan, minum, air mineral, hingga permen karet dilarang di dalam kereta dan area peron. Pelanggaran dapat dikenai denda hingga 7.500 dolar Taiwan (sekitar Rp37 juta).
Singapura juga menerapkan larangan serupa dengan denda yang bisa mencapai 500 dolar Singapura (sekitar Rp60 juta). Meski di beberapa bus bandara aturannya tampak “abu-abu”, masyarakat lokal umumnya tetap mematuhi larangan demi kenyamanan bersama.
Gratis Bukan Berarti Boleh Dibawa Pulang
Pelanggaran lain yang kerap disorot adalah membawa pulang makanan dan minuman dari lounge bandara atau hotel.
Baca tanpa iklan