Lima Poin Panas Hasil Pertemuan Trump–Netanyahu: Gaza, Iran, dan Suriah Jadi Fokus Utama
Trump–Netanyahu sepakat tekan Hamas, ancam Iran, dan bahas Suriah hingga Lebanon. Pertemuan panas ini berpotensi mengubah peta konflik Timur Tengah.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Whiesa Daniswara
Ringkasan Berita:
- Trump mengultimatum Hamas agar melucuti senjata sebagai syarat lanjutan gencatan senjata Gaza, sekaligus membela penuh tindakan militer Israel.
- AS mengirim sinyal keras siap menyerang Iran jika menghidupkan kembali program nuklir atau misil balistik, dengan fokus baru pada ancaman rudal terhadap Israel.
- Trump membuka peluang rekonsiliasi Israel–Suriah demi stabilitas kawasan, namun bersikap ambigu soal Lebanon, memberi ruang eskalasi jika konflik Israel–Hizbullah memburuk.
TRIBUNNEWS.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggelar pertemuan tatap muka dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, Senin (29/12/2025).
Pertemuan ini menjadi kunjungan kelima Netanyahu ke Amerika Serikat sejak Trump dilantik pada Januari lalu.
Di tengah konflik yang terus memanas di Timur Tengah, Trump dan Netanyahu tampak menunjukkan keakraban, bahkan mengenakan pakaian yang sama seperti dalam pertemuan sebelumnya.
Suasana penuh pujian mewarnai pertemuan tersebut, namun dibalik itu nyatanya Trump dan Netanyahu membahas sejumlah isu krusial yang berpotensi mempengaruhi stabilitas kawasan.
Mengutip dari Al Jazeera, berikut lima poin utama hasil pertemuan tersebut.
1. Trump Ultimatum Hamas Agar Melucuti Senjata
Poin pertama dalam pertemuan tersebut Trump menegaskan bahwa pihaknya akan menekan keras Hamas agar melucuti senjata sebagai syarat utama kelanjutan gencatan senjata di Gaza.
Ia melontarkan ancaman keras kepada kelompok Palestina tersebut jika menolak tuntutan tersebut.
“Jika mereka tidak melakukannya, itu akan mengerikan bagi mereka. Sangat mengerikan,” kata Trump.
Pernyataan ini disampaikan di tengah upaya AS mendorong fase kedua gencatan senjata, yang menurut Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio akan mencakup pembentukan pemerintahan teknokrat Palestina dan pengerahan pasukan polisi internasional.
Dengan mendesak Hamas melucuti senjata, Trump secara efektif mendorong skenario di mana Gaza berada di bawah kendali aktor sipil dan internasional, sekaligus menghilangkan ancaman bersenjata yang selama ini dianggap Israel sebagai risiko utama.
Baca juga: Puluhan Negara Kecam Netanyahu, Tolak Manuver Israel di Somaliland
Selain itu, ancaman keras Trump bahwa konsekuensinya akan “mengerikan” jika Hamas menolak tuntutan tersebut menunjukkan upaya AS menggunakan tekanan maksimal, termasuk sinyal bahwa intervensi militer atau tindakan kolektif dari negara-negara lain bisa terjadi.
Pernyataan ini mempertegas posisi Trump bahwa pelucutan senjata Hamas bukan sekadar opsi diplomatik, melainkan garis merah yang menentukan arah konflik Gaza ke depan.
Trump juga membela Israel atas tuduhan pelanggaran gencatan senjata di Gaza, meskipun laporan menyebutkan ratusan warga Palestina tewas sejak Oktober.
“Saya tidak khawatir dengan apa pun yang dilakukan Israel. Mereka memenuhi kesepakatan 100 persen,” ujar Trump.
2. Ancaman Terbuka AS terhadap Iran
Poin kedua yang dibahas dalam pertemuan itu yakni isyarat bahwa Washington siap melancarkan tindakan militer lanjutan terhadap Iran, jika Teheran membangun kembali program nuklir atau kemampuan misil balistiknya.
Baca tanpa iklan