Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
1 - 1
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
0 - 1
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
2 - 0
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

OpenAI Luncurkan ChatGPT Health, Chatbot Khusus untuk Konten Medis

OpenAI menggarisbawahi bahwa ChatGPT Health dirancang untuk mendukung penggunanya terkait info kesehatan bukan menggantikan tenaga medis

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Bobby W
zoom-in OpenAI Luncurkan ChatGPT Health, Chatbot Khusus untuk Konten Medis
Tribunnews/ M Alvian Fakka
ILUSTRASI CHATGPT - Foto untuk Ilustrasi ChatGPT yang dibuat pada Rabu (15/10/2025) 
Memuat video…

Saat ini, akses ke ChatGPT Health mulai diberikan secara bertahap kepada pengguna dengan paket Free, Go, Plus, dan Pro di luar wilayah Area Ekonomi Eropa, Swiss, dan Inggris.

Untuk integrasi catatan medis tertentu, saat ini baru tersedia untuk pengguna di Amerika Serikat dengan dukungan dari jaringan data kesehatan b.well.

OpenAI berencana untuk memperluas akses ini ke seluruh pengguna web dan iOS dalam beberapa minggu mendatang.

Bagi mereka yang berminat, OpenAI telah membuka daftar tunggu (waitlist) resmi untuk mendapatkan akses lebih awal.

Risiko "Halusinasi" Medis

Meski menawarkan kemudahan, langkah OpenAI menghadirkan fitur kesehatan khusus ini tidak lepas dari sorotan tajam para pakar medis dan privasi.

Kontroversi utama berpusat pada akurasi informasi dan risiko keamanan pasien.

Para kritikus memperingatkan fenomena "halusinasi AI", di mana model bahasa besar terkadang memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan namun secara faktual salah atau berbahaya secara medis.

Rekomendasi Untuk Anda

Pada tahun 2024, sebuah studi yang diterbitkan di JAMA Pediatrics menemukan bahwa ChatGPT membuat diagnosis yang salah dalam lebih dari 80 persen kasus pediatrik dari skenario dunia nyata.

Hal ini menunjukkan betapa berbahayanya ketergantungan pada AI untuk diagnosis anak-anak. 

Kontroversi serupa juga bisa dilihat pada kasus yang dialami oleh chatbot yang dikembangkan oleh National Eating Disorders Association (NEDA) di Amerika Serikat.

NEDA diketahui sempat mengganti saluran bantuan komnikasi mereka dengan fitur chatbot AI bernama "Tessa". 

Baca juga: Lagu AI Membanjiri YouTube Music, Pengguna Ramai-ramai Mengeluh

Tak lama kemudian, layanan ini viral setelah pengguna melaporkan bahwa Tessa memberikan saran untuk membatasi asupan kalori dan mengukur lemak tubuh.

Saran ini dinilai fatal mengingat anjuran tersebut sangat berbahaya untuk diberikan bagi para pengidap gangguan makan (eating disorders).

Hal ini menunjukkan bahwa AI bisa kehilangan sensitivitas empati dan konteks psikologis yang krusial dalam medis.

(Tribunnews.com/Bobby)

Sesuai Minatmu
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas