5 Populer Internasional: Demo di Iran Memanas - Usaha NATO Lindungi Greenland dari AS
Rangkuman berita populer internasional, di antaranya demonstrasi besar di Iran menewaskan ratusan warga sipil dan aparat keamanan
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
Iran memperingatkan Amerika Serikat (AS) untuk tidak melakukan serangan terhadap wilayahnya di tengah memanasnya demonstrasi anti-pemerintah di Iran.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan Iran akan melakukan serangan pendahuluan terhadap target AS dan Israel jika Iran mendeteksi adanya serangan yang akan segera terjadi.
Protes yang berawal pada akhir Desember lalu itu menyebar ke banyak wilayah, memicu kerusuhan, meningkatkan korban jiwa hingga 500 orang.
AS dan Israel mendukung demonstran anti-pemerintah Iran yang menuntut perubahan politik di Iran.
“Hendaknya mereka yang mengancam Iran diberi peringatan. Serangan apa pun terhadap Iran akan menjadikan wilayah pendudukan, semua pusat dan pangkalan militer, serta kapal-kapal Amerika di kawasan itu sebagai sasaran yang sah,” kata Ghalibaf pada Minggu (11/1/2026).
“Kami tidak membatasi diri hanya menanggapi setelah serangan terjadi dan akan bertindak berdasarkan tanda-tanda ancaman yang objektif, sehingga tidak ada yang melakukan kesalahan perhitungan yang akan membawa mereka pada bencana,” tambahnya.
Aksi protes yang dimulai pada hari Minggu, 28 Desember lalu, dengan para pemilik toko di Teheran yang berunjuk rasa menentang memburuknya perekonomian Iran telah menyebar ke kota-kota lain, dan juga melibatkan para mahasiswa.
Rial Iran telah melemah terhadap dolar AS dan mata uang dunia lainnya, sehingga menaikkan harga impor dan merugikan pedagang ritel, seperti diberitakan Al Jazeera.
Pada 6 Januari, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menepis pernyataan Trump yang menyebut tangannya "berlumuran darah rakyat Iran" sementara para pendukungnya meneriakkan "Matilah Amerika!" dalam rekaman yang ditayangkan oleh televisi pemerintah Iran.
Media pemerintah kemudian berulang kali menyebut para demonstran sebagai "teroris," yang membuka jalan bagi penindakan keras seperti yang terjadi setelah protes nasional lainnya dalam beberapa tahun terakhir.
3. 'Teroris Mossad' Diklaim Serang Polisi Iran, Israel Akui Agennya Kini Beroperasi di Iran
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengklaim “teroris Mossad” menyerang para polisi di Iran di tengah berlangsungnya unjuk rasa besar di negaranya.
Klaim itu dilontarkan Araghchi setelah pada hari Minggu, (11/1/2026), mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo menyatakan Mossad atau agen Israel berjalan-jalan di jalanan Iran.
“Direktur CIA yang diperintah Presiden [AS Donald] Trump secara terbuka dan tanpa malu-malu menyoroti apa yang sebenarnya dilakukan oleh Mossad dan para pendukungnya,” ujar Araghchi, Sabtu, di media sosial X.
Dikutip dari Press TV, Araghchi memperingatkan AS dan Israel mengenai konsekuensi yang akan muncul karena mendukung para perusuh dalam aksi unjuk rasa di Iran. Araghchi mempertanyakan apakah pemerintah AS bakal menoleransi aksi serangan terhadap polisi seperti itu apabila terjadi di AS.
Baca tanpa iklan