AS vs Iran Memanas, Trump Ancam Gempur Teheran Jika Keselamatannya Terancam
AS–Iran di ambang eskalasi. Trump ancam gempur Teheran jika keselamatannya terancam, Iran balas keras. Risiko perang regional kian nyata.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Garudea Prabawati
Menteri Warisan Israel Amichai Eliyahu bahkan terang-terangan mengaku agen-agen intelijen Israel menyusup ke demo Iran seperti pada Juni 2025 kala Iran-Israel perang 12 hari.
Tuduhan campur tangan ini semakin memperumit hubungan bilateral yang sudah lama tegang antara Iran dan Amerika Serikat.
Sementara itu merespon ancaman AS, pejabat Iran juga melontarkan peringatan keras terhadap Amerika Serikat, khususnya terkait tindakan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Parlemen Iran menyatakan bahwa serangan terhadap Khamenei akan dianggap sebagai deklarasi perang penuh, memicu respon nasional yang luas termasuk kemungkinan jihad atau serangan balasan.
Juru bicara angkatan bersenjata Iran, Jenderal Abolfazl Shekarchi, juga memperingatkan Amerika bahwa jika ada tindakan agresi terhadap pemimpin mereka, Iran tidak hanya akan membalas tetapi akan “membakar dunia mereka,” menggambarkan kesiapan Teheran untuk melakukan serangan balasan yang signifikan.
Ancaman saling balas ini terjadi di tengah pergerakan militer Amerika Serikat yang signifikan.
Para analis mengatakan retorika ekstrem dari kedua belah pihak mencerminkan eskalasi dramatis hubungan bilateral yang rentan terhadap misinterpretasi.
Terutama di tengah situasi domestik yang tegang di Iran dan politik luar negeri AS yang agresif.
Jika salah satu dari ancaman tersebut berubah menjadi tindakan nyata, konsekuensinya dapat membuka babak baru konflik militer yang jauh lebih luas di kawasan yang sudah rapuh.
Dalam kasus AS dan Iran, eskalasi ini berpotensi menyeret sekutu dan proksi regional, seperti Israel, kelompok milisi di Timur Tengah, negara-negara Teluk, serta jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Karena kawasan Timur Tengah sudah lama berada dalam kondisi rapuh dan penuh konflik, satu tindakan militer tambahan dapat membuka babak baru perang yang lebih luas, lebih lama, dan lebih sulit dikendalikan.
Dampaknya bukan hanya pada keamanan regional, tetapi juga pada stabilitas ekonomi global, harga energi, dan keselamatan warga sipil lintas negara.
(Tribunnews.com / Namira)