Eks Menteri Inggris Sebut Dewan Perdamaian Trump Bakal Gagal Total, Singgung Nama Netanyahu
Mantan menteri Inggris di era Tony Blair, Barry Gardiner menyebut Dewan Perdamaian bentukan Donald Trump bakal gagal total.
Penulis:
Whiesa Daniswara
Editor:
Endra Kurniawan
Lebih jauh, Gardiner melihat adanya kepentingan ekonomi Amerika Serikat di balik ketegangan yang terjadi.
Ia mencatat bahwa sekitar 56 persen persenjataan yang dibeli negara-negara Eropa berasal dari AS.
Menurutnya, memicu konflik di Eropa merupakan "bisnis yang menguntungkan" bagi industri persenjataan Amerika
Mengenai keterlibatan mantan bosnya, Tony Blair, Gardiner menduga Blair mungkin bergabung untuk memahami kesepakatan di balik layar yang sedang dimainkan oleh Trump dan Putin.
Namun, secara pribadi ia meyakini bahwa inisiatif dewan ini tidak akan membuahkan hasil.
"Saya rasa dewan ini ditakdirkan untuk gagal," pungkasnya.
Motif Ekonomi di Gaza
Kritik keras juga datang dari pengamat politik yang melihat adanya motif ekonomi di balik dalih kemanusiaan.
Analis politik Mouin Rabbani menyebut bahwa dewan ini memiliki dua tujuan utama, yakni melucuti senjata Hamas dan membuka peluang investasi real estat di pesisir Gaza.
Jared Kushner sebelumnya sempat mempresentasikan visi "New Gaza" senilai US$30 miliar, yang mencakup pembangunan gedung-gedung pencakar langit di sepanjang garis pantai.
Baca juga: Iran Hormati Keputusan Indonesia Gabung Dewan Perdamaian Gaza, Tak Pengaruhi Hubungan Diplomatik
Trump sendiri dalam pidatonya di Davos menyebut Gaza sebagai "properti yang indah" dan menyatakan bahwa upaya perdamaian ini sangat bergantung pada aspek lokasi.
"Ini bukan sekadar jalur menuju rekonsiliasi, melainkan sebuah pertunjukan kosong yang mengosongkan makna kata 'perdamaian' itu sendiri," tulis laporan tersebut, mengutip The New Arab.
Dengan meminggirkan warga Palestina dari keputusan atas tanah mereka sendiri, BoP dianggap lebih mirip sebagai badan administratif kolonial baru daripada upaya perdamaian sejati.
Dianggap Absurd Ukraina
Sementara itu, Ukraina memberikan respons dingin, bahkan cenderung sinis kepada badan yang dibentuk oleh Trump tersebut.
Pemerintah Ukraina menilai ide untuk duduk satu meja dengan Rusia dalam lembaga bentukan Trump tersebut sebagai sesuatu yang "absurd" atau tidak masuk akal.
Meskipun Kyiv berupaya menjaga hubungan baik dengan Trump demi kelancaran negosiasi damai di masa depan, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan keengganannya untuk bergabung selama perang masih berkecamuk.
Baca tanpa iklan