Ledakan di Iran Tewaskan 1 Orang, Media Berafiliasi IRGC Bantah Ada Serangan
Ledakan di Bandar Abbas menewaskan seorang anak dan melukai 14 orang, diduga disebabkan oleh kebocoran gas.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Wahyu Gilang Putranto
Mengutip CNA, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan konflik yang lebih luas akan merugikan Iran dan AS.
“Republik Islam Iran tidak pernah menginginkan, dan sama sekali tidak menginginkan, perang dan sangat yakin bahwa perang tidak akan menguntungkan Iran, Amerika Serikat, maupun kawasan ini,” katanya dalam percakapan telepon dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, menurut kepresidenan Iran, Sabtu.
Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan bahwa Perdana Menteri Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, mengadakan pembicaraan di Teheran dengan Larijani pada Sabtu untuk mencoba meredakan ketegangan di kawasan tersebut.
Latihan Angkatan Laut Iran
Sebelumnya pada Jumat (30/1/2026), Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) akan melakukan latihan angkatan laut dengan tembakan langsung selama dua hari di Selat Hormuz, pusat transit utama pasokan energi global.
CENTCOM memperingatkan IRGC terhadap perilaku yang tidak aman dan tidak profesional di dekat pasukan AS.
Peringatan itu dibalas tanggapan keras dari Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
“Militer AS sekarang mencoba mendikte bagaimana Angkatan Bersenjata kami yang perkasa harus melakukan latihan menembak di wilayah mereka sendiri,” tulis Araghchi di X.
AS menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris pada 2019, sebuah langkah yang kemudian diikuti Uni Eropa pada Kamis (29/1/2026) lalu, yang memicu reaksi keras dari Iran.
Protes di Iran
Protes nasional terhadap kenaikan biaya hidup meletus pada 28 Desember, sebelum berkembang menjadi gerakan anti-pemerintah yang lebih luas dan mencapai puncaknya pada 8 dan 9 Januari.
Pihak berwenang menyebut aksi meletus menjadi kerusuhan dan menyalahkan jatuhnya korban jiwa kepada AS dan Israel.
Jumlah korban tewas resmi menurut pihak berwenang mencapai 3.117 jiwa.
Namun, Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS menyatakan telah mengonfirmasi 6.713 kematian, termasuk 137 anak-anak.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Baca tanpa iklan