Shunga dan Wajah Terbuka Seksualitas Jepang pada Zaman Edo
Dulu hiburan populer, kini shunga dipelajari serius dan dipamerkan dunia. Seni erotis Edo merekam cara Jepang memandang cinta, tubuh dan kehidupan
Editor:
Eko Sutriyanto
Pameran khusus shunga digelar di berbagai museum dunia, dan karya-karyanya menjadi objek penelitian lintas disiplin, mulai dari sejarah seni hingga studi gender.
Di Tokyo pun pertama kali pameran Shunga sekitar tahun 2015 lalu, tambahnya.
Meski demikian, karena sifatnya yang eksplisit, publikasi shunga masih sering dibatasi dalam ruang publik modern Jepang.
Namun demikian, banyak kalangan menilai shunga bukan sekadar karya erotis, melainkan dokumen budaya yang penting untuk memahami sejarah sosial dan estetika Jepang.
Baca juga: JAMA Desak Pemerintah Jepang Percepat Kebijakan Ekonomi dan Reformasi Pajak Otomotif
Para ahli menegaskan bahwa mempelajari shunga berarti memahami bagaimana masyarakat Jepang masa lalu memandang tubuh manusia, relasi sosial, serta kebebasan berekspresi dalam seni.
Dengan meningkatnya perhatian internasional, shunga kini tidak hanya dipandang sebagai artefak erotis, tetapi juga sebagai warisan budaya yang menggambarkan kompleksitas kehidupan dan nilai masyarakat Jepang berabad-abad lalu.
"Sunga juga sebagai bukti kalau di jaman Edo pun berbagai jenis kertas dengan kualitas baik telah dibuat Jepang. Demikian penggambar dan tinta gambar yang berwarna warni pun telah tersedia saat ini. Satu kebudayaan besar Jepang di masa Edo," papar seorang pengamat budaya Jepang kepada Tribunnews.com.
Pameran berlangsung di Shinjuku Kabukicho Noh Stage gedung Lions Plaza Shinjuku lantai 2 (Kabukicho 2-9-18) dan di Kabukicho Social Building lantai 9 (Kabukicho 1-2-15). Tiket per orang 1100 yen dan mahasiswa 700 yen. Anak-anak gratis.
Karena seni budaya erotis tradisional Jepang, gambar yang ada pun berlatar belakang erotisme misalnya orang yang bersetubuh dan sebagainya.
Diskusi pameran di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com