Mengapa Sistem Kerja Empat Hari dalam Seminggu Berhasil di Belanda?
Karyawan Belanda rata-rata bekerja 32,1 jam per minggu, terendah di Uni Eropa dan jauh lebih sedikit daripada rata-rata Uni Eropa yaitu 36 jam.
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Pada saat yang sama, output ekonomi Belanda, atau PDB per kapita, tetap termasuk yang tertinggi di Eropa, mendekati peringkat teratas di antara negara-negara anggota OECD dengan ekonomi maju.
Hal ini menantang asumsi umum bahwa negara-negara kaya membutuhkan jam kerja yang panjang untuk mempertahankan daya saing mereka.
Namun, apakah sistem kerja empat hari seminggu di Belanda benar-benar sukses bagi perekonomian Belanda seperti yang diberitakan di media?
Daniela Glocker, seorang ekonom di kantor OECD Belanda, mengatakan:
"Memang benar bahwa Belanda memiliki produktivitas tinggi dan jam kerja yang lebih sedikit, tetapi apa yang telah kami amati selama lima belas tahun terakhir adalah bahwa produktivitas ini tidak meningkat."
"Jadi, jika rakyat Belanda ingin mempertahankan standar hidup mereka, mereka harus meningkatkan produktivitas atau meningkatkan pasokan tenaga kerja."
Ini berarti bahwa para pekerja saat ini harus mulai menghasilkan lebih banyak barang dan jasa selama hari kerja mereka, jika tidak, negara tersebut perlu mendatangkan lebih banyak orang ke pasar tenaga kerja, mungkin melalui peningkatan imigrasi.
Belanda memiliki persentase pekerja paruh waktu tertinggi menurut data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), dengan hampir setengah dari karyawannya bekerja kurang dari waktu penuh.
Upah yang tinggi dan cara penghitungan pajak di Belanda, yang memengaruhi kelompok pendapatan menengah, membuat jam kerja lembur kurang menarik, sehingga mendorong keluarga untuk mengorbankan pendapatan demi waktu.
Analisis pemerintah menunjukkan kalau tiga dari empat wanita dan satu dari empat pria bekerja kurang dari 35 jam per minggu.
Serikat pekerja berpendapat bahwa "jam kerja yang lebih sedikit" dapat bermanfaat bagi energi, produktivitas, dan masyarakat.
Mereka berpendapat bahwa menormalisasi pola kerja menjadi empat hari seminggu dapat mempertahankan pekerjaan orang-orang, yang mungkin akan kehilangan mata pencaharian mereka sepenuhnya jika tidak demikian.
Namun OECD memperingatkan kalau keuntungan ini datang dengan tekanan yang semakin meningkat.
Seperti kebanyakan negara anggota, Belanda menghadapi populasi yang menua, dan seiring dengan meningkatnya jumlah pensiunan, jumlah pekerja menurun.
"Orang Belanda kaya dan bekerja lebih sedikit jam, tetapi pertanyaannya adalah: seberapa berkelanjutan hal ini?" kata Nicholas Gunn, seorang ekonom di OECD. "Anda tidak dapat mencapai banyak hal dengan jumlah pekerja yang begitu sedikit."
Baca tanpa iklan