Cetak Sejarah, Perempuan Indonesia Siap Jadi Sopir Bus Asing Pertama di Jepang
Tiga sopir Indonesia direkrut Tokyu Bus Jepang, termasuk calon sopir perempuan asing pertama, debut angkut penumpang Maret 2026
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Tokyu Bus merekrut tiga sopir asal Indonesia melalui visa Tokutei Ginou untuk mengatasi kekurangan pengemudi di Jepang
- Salah satunya perempuan yang ditargetkan menjadi sopir bus asing perempuan pertama dan mulai membawa penumpang Maret 2026
- Mereka kini menyelesaikan pelatihan, adaptasi budaya kerja, dan uji lisensi bus besar.
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Tokyu Bus segera mencatat sejarah baru di sektor transportasi umum Jepang.
Perusahaan tersebut mengumumkan telah menerima tiga kandidat sopir bus asal Indonesia melalui skema visa kerja Tokutei Ginou (Specified Skilled Worker).
Salah satu dari mereka adalah perempuan, yang dijadwalkan menjadi sopir bus perempuan asing pertama di Jepang dengan keterampilan khusus.
Ia ditargetkan mulai membawa penumpang pada Maret 2026.
Tiga kandidat tersebut adalah Mahatmi Rismartanti (26), Bagus Endra Wardana (39), dan Sarman Purwanto (36).
Baca juga: Lima Alasan Perusahaan Jepang Rekrut SDM Sopir Bus Indonesia
Sebelum berangkat, mereka menjalani pelatihan intensif selama beberapa bulan di Japan Indonesia Driving School (JIDS) di Solo, Jawa Tengah.
Mereka kemudian tiba di Jepang pada Selasa, 16 September 2025.
Saat ini, Sarman ditempatkan di Ikegami Eigyosho, Tokyo. Sementara Mahatmi dan Bagus bertugas di Nijigaoka Eigyosho, Kawasaki, Prefektur Kanagawa.
Hanya tiga hari setelah tiba, tepatnya Jumat, 19 September 2025, ketiganya langsung mengikuti proses kirikae (konversi SIM Indonesia ke SIM Jepang) dan berhasil memperoleh SIM kategori futsu menkyo (mobil biasa).
Setelah itu, mereka melanjutkan pelatihan di Tokyu Jidosha Gakko selama 1,5 bulan dan berhasil mendapatkan SIM Ogata Nishu, syarat utama untuk mengemudikan bus berukuran besar.
Mulai Latihan Mengemudi, Debut Maret 2026
Sesuai jadwal perusahaan, mulai 15 Februari 2026 para kandidat akan mulai mengemudikan bus dengan penumpang, didampingi sopir senior.
Selanjutnya, pada pertengahan Maret 2026, mereka ditargetkan mengemudi secara mandiri.
Sebelumnya, mereka berlatih menghafal rute dan prosedur operasional tanpa membawa penumpang, didampingi instruktur.
Adaptasi Budaya Berkendara
Mahatmi mengungkapkan adanya perbedaan besar antara budaya berkendara di Indonesia dan Jepang.
“Kalau di Jakarta, belok kiri sering kali bisa langsung jalan. Tapi di Jepang, menyetir bus harus benar-benar berhenti dulu, memastikan aman, barulah berbelok,” ujarnya.
Baca tanpa iklan