Perang Iran Vs AS-Israel Jadi Ujian Krusial Perdamaian Global & Stabilitas Timur Tengah
Perang terbuka Israel-AS dan Iran ini dinilai bukan lagi sekadar konflik bilateral, melainkan pertaruhan besar bagi masa depan stabilitas Timteng.
Penulis:
Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor:
Dewi Agustina
Ringkasan Berita:
- Eskalasi konflik bersenjata antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel pada tahun 2026 ini memantik sorotan tajam dari kalangan akademisi dan pakar hubungan internasional.
- Perang terbuka ini dinilai bukan lagi sekadar konflik bilateral.
- Ini adalah pertaruhan besar bagi masa depan stabilitas Timur Tengah dan kredibilitas narasi perdamaian global.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Eskalasi konflik bersenjata antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel pada tahun 2026 ini memantik sorotan tajam dari kalangan akademisi dan pakar hubungan internasional.
Perang terbuka ini dinilai bukan lagi sekadar konflik bilateral, melainkan pertaruhan besar bagi masa depan stabilitas Timur Tengah dan kredibilitas narasi perdamaian global.
Baca juga: Penerbangan Jemaah Umrah Terdampak Akibat AS-Israel Serang Iran, KUH Jeddah Mitigasi Antisipasi
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Sekolah Pascasarjana Diplomasi Paramadina (PGSD), Ahmad Khoirul Umam.
Menurutnya, serangan AS dan Israel terhadap Iran yang terjadi bertepatan dengan bulan suci Ramadan ini mempertajam kontradiksi antara retorika stabilitas dan praktik militer di lapangan.
"Serangan ini membuka ruang pertanyaan fundamental terhadap komitmen Washington untuk menghadirkan perdamaian global. Dalam perspektif Coercive Diplomacy, ketika kekuatan militer dijadikan instrumen utama geopolitik, norma multilateralisme dan hukum internasional tereduksi menjadi dekorasi simbolik belaka," ujar Umam dalam keterangannya kepada Tribunnews, Minggu (1/3/2026).
Umam pun menyoroti tendensi unilateral AS yang dalam dua bulan terakhir berturut-turut menyerang negara berdaulat, mulai dari Venezuela hingga kini Iran.
Ia menilai hal ini menguji kredibilitas lembaga seperti Board of Peace (BOP).
Momentum ini, kata Umam, harus menjadi ruang refleksi strategis bagi negara-negara Islam yang relatif independen seperti Indonesia dan Turki untuk meninjau kembali kerja sama BOP terkait arsitektur diplomasi kawasan.
Lebih jauh, Umam menganalisis bahwa target utama AS dan Israel bukanlah sekadar menaklukkan Iran sebagai sebuah negara.
Pasalnya, Iran dipandang sebagai poros jaringan kekuatan non-negara seperti Hizbullah, Hamas, dan Houthi yang selama ini menjadi penyeimbang dominasi AS-Israel di kawasan.
"Mengganti rezim di Teheran berarti meruntuhkan salah satu pilar utama resistensi regional di Timur Tengah. Netralisasi Iran adalah langkah proyek rekayasa ulang keseimbangan kekuatan Timur Tengah," tegas Umam.
Namun, upaya tersebut tidak akan berjalan tanpa risiko fatal.
Umam memperingatkan bahwa langkah retaliasi (balasan) Iran dengan menjadikan Selat Hormuz sebagai ‘kartu truf’ akan memicu krisis energi dunia.
Baca tanpa iklan