Pertahanan Udara Saudi Hancurkan Rudal dan Drone yang Mengarah ke Al-Kharj
Arab Saudi cegat empat rudal dan lima drone yang menargetkan wilayah kerajaan di tengah eskalasi konflik kawasan Timur Tengah
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Sistem pertahanan udara Arab Saudi berhasil mencegat empat rudal dan lima drone yang menargetkan wilayah kerajaan pada Jumat dini hari
- Serangan diarahkan ke beberapa lokasi strategis seperti Prince Sultan Air Base di Al-Kharj serta wilayah sekitar Riyadh
- Insiden ini terjadi di tengah eskalasi konflik kawasan setelah ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat meningkat.
TRIBUNNEWS.COM, RIYADH — Sistem pertahanan udara Arab Saudi berhasil mencegat dan menghancurkan sejumlah rudal serta drone yang menargetkan wilayah kerajaan, Jumat (6/3/2026) dini hari.
Serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi melalui akun resminya di platform X menyatakan bahwa empat rudal dan lima drone berhasil dihancurkan sebelum mencapai sasaran.
Dalam pernyataan pertama yang dirilis tak lama setelah tengah malam, kementerian menyebut tiga rudal balistik diluncurkan menuju Prince Sultan Air Base yang berada di Provinsi Al-Kharj.
Rudal tersebut berhasil diintersepsi oleh sistem pertahanan udara kerajaan.
Dikutip dari Arabnews, beberapa saat kemudian, militer Saudi mengumumkan dua drone lainnya berhasil ditembak jatuh, masing-masing di Provinsi Timur dan wilayah Al-Kharj.
Baca juga: Arab Saudi Aman, tapi Kemenhaj Tetap Imbau Jemaah Umrah Tunda Keberangkatan: Demi Keselamatan
Pada pagi hari, kementerian kembali melaporkan bahwa satu rudal jelajah berhasil dihancurkan di Al-Kharj, diikuti tiga drone lain yang dicegat di wilayah timur Kota Riyadh.
Al-Kharj Jadi Sasaran Penting
Wilayah Al-Kharj menjadi salah satu titik sasaran utama dalam serangan tersebut.
Kawasan ini dikenal sebagai pusat industri penting yang berlokasi sekitar 80 kilometer di tenggara Riyadh serta menjadi lokasi sejumlah fasilitas militer strategis.
Serangan pada Jumat dini hari itu terjadi setelah insiden serupa beberapa jam sebelumnya, ketika tiga rudal jelajah yang juga menargetkan Al-Kharj berhasil dinetralkan oleh sistem pertahanan udara.
Pada saat yang hampir bersamaan, drone lain dilaporkan dicegat di atas kilang minyak Ras Tanura Oil Refinery di Provinsi Timur, salah satu fasilitas energi terbesar di kawasan Teluk.
Serangan Berulang Sejak Awal Maret
Sebelumnya pada 3 Maret, pertahanan udara Saudi juga berhasil mencegat delapan drone yang terbang menuju wilayah sekitar Riyadh dan Al-Kharj.
Pada hari yang sama, sebuah drone dilaporkan menyerang kompleks Embassy of the United States in Riyadh. Insiden tersebut memicu kebakaran terbatas dan menyebabkan kerusakan struktural ringan, meskipun tidak dilaporkan adanya korban jiwa.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Duta Besar Iran untuk Arab Saudi, Alireza Enayati, membantah keterlibatan negaranya dalam serangan tersebut dalam pernyataan yang disampaikan pada Kamis.
Eskalasi terbaru ini terjadi setelah serangan udara besar yang dilancarkan oleh Israel dan United States terhadap Iran pada Sabtu lalu.
Serangan itu memicu gelombang serangan balasan dari Teheran terhadap berbagai target di kawasan Timur Tengah.
Konflik yang meningkat tajam sejak 28 Februari 2026 kini telah meluas ke sejumlah negara di kawasan Teluk.
Baca juga: Kemlu RI Ungkap 3 Poin Surat Prabowo Untuk Presiden Iran, Utarakan Solidaritas Hingga Tawaran Dialog
Negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) dilaporkan turut mengalami serangan.
Serangan yang diklaim berasal dari Iran di wilayah Teluk dilaporkan telah menewaskan sedikitnya sembilan orang.
Jalur Energi dan Perdagangan Terganggu
Ketegangan keamanan juga berdampak pada sektor maritim di kawasan Teluk.
Serangan rudal terhadap kapal komersial di perairan dekat Oman memicu penumpukan sekitar 150 kapal tanker di sekitar Strait of Hormuz.
Akibatnya, lalu lintas pengiriman minyak melalui jalur strategis tersebut dilaporkan anjlok hingga sekitar 86 persen.
Arab Saudi juga mengecam keras serangan drone dan rudal yang disebut menargetkan Azerbaijan serta ruang udara Turkey yang dilindungi oleh NATO.
Dalam pertemuan luar biasa para menteri luar negeri negara anggota GCC yang digelar di Riyadh pada 1 Maret, negara-negara Teluk menegaskan hak kolektif mereka untuk mempertahankan wilayah dari apa yang disebut sebagai “agresi Iran”.
Sementara itu, setelah rapat kabinet yang dipimpin oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman pada 3 Maret, pemerintah Saudi menegaskan bahwa kerajaan memiliki hak penuh untuk memberikan respons atas serangan yang terus berulang.
Kabinet juga menegaskan bahwa Arab Saudi akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi wilayah, warga negara, serta penduduknya dari ancaman keamanan yang semakin meningkat di kawasan.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.