Iran Tak Sudi Damai dengan AS-Israel: Rudal Terberat akan Diluncurkan
Iran menegaskan telah menutup pintu damai, kecuali mereka menerima jaminan bahwa serangan seperti saat ini tidak akan terjadi lagi ke depannya.
Penulis:
Rifqah
Editor:
Whiesa Daniswara
Ringkasan Berita:
- Iran menegaskan telah menutup pintu damai, kecuali mereka menerima jaminan bahwa serangan seperti saat ini tidak akan terjadi lagi ke depannya.
- Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) diketahui telah mengintensifkan serangan balasannya, meluncurkan apa yang mereka sebut sebagai gelombang ke-33 dari Operasi Promise 4.
- Mereka telah mengumumkan bahwa ke depannya, mereka hanya akan menggunakan rudal terberatnya, yang beratnya satu ton atau lebih, terhadap Israel dan target lainnya.
TRIBUNNEWS.COM - Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengatakan Iran bersikeras untuk tidak kembali ke meja perundingan atau berdamai dengan Amerika Serikat (AS)-Israel setelah terjadi peperangan.
AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap target di Iran pada Sabtu (28/2/2026) yang memicu ledakan di Ibu Kota Teheran dan peningkatan ketegangan di seluruh kawasan.
Disebutkan bahwa serangan tersebut merupakan tindak lanjut dari perencanaan bersama selama berbulan-bulan antara AS dan Israel.
Bahkan, dalam serangan tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei tewas.
Atas serangan AS, kini Iran terus melancarkan serangan balasan terhadap Israel dan aset-aset AS di Timur Tengah, termasuk di Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi. Setidaknya dua orang tewas di Israel.
Oleh karena itu, Iran menegaskan telah menutup pintu damai, kecuali mereka menerima jaminan bahwa serangan seperti saat ini tidak akan terjadi lagi ke depannya.
"Agresi seperti yang kita saksikan sekarang dan seperti yang kita saksikan pada bulan Juni tidak akan terjadi lagi," kata Kazem, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (10/3/2026).
"Jadi, ini adalah syarat utama bagi Iran, dan komentarnya tidak menunjukkan kesediaan Iran untuk kembali ke meja perundingan," tambahnya.
Selain itu, Kazem juga membenarkan bahwa China, Prancis, dan Rusia telah menghubungi pihaknya terkait gencatan senjata, meskipun ia tidak memberikan rincian tentang proposal spesifik tersebut.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) diketahui telah mengintensifkan serangan balasannya, meluncurkan apa yang mereka sebut sebagai gelombang ke-33 dari Operasi Promise 4.
Mereka telah mengumumkan bahwa ke depannya, mereka hanya akan menggunakan rudal terberatnya, yang beratnya satu ton atau lebih, terhadap Israel dan target lainnya.
Baca juga: Eks Dubes Sebut Diplomasi Harus Dilakukan Amerika, Bukan Iran: Semoga Ada Obat yang Buat Trump Waras
Sebelumnya, Juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini, beberapa waktu lalu telah menyatakan bahwa Iran siap berperang dalam jangka waktu lama dengan AS-Israel.
Naeini pun mengatakan Iran sepenuhnya siap untuk "perang berkepanjangan" dan siap untuk memperkenalkan persenjataan canggih yang belum pernah digunakan dalam konflik tersebut.
Dia juga menegaskan bahwa musuh-musuh Iran “harus mengharapkan pukulan yang menyakitkan” dalam gelombang serangan baru yang akan datang.
"Inisiatif dan senjata baru Iran sedang dalam perjalanan. Teknologi-teknologi ini belum diterapkan secara luas," katanya, dikutip dari Al Jazeera, Jumat (6/3/2026).
Baca tanpa iklan